Sabtu, 31 Agustus 2013

Sekilas tentang Gong








Mitologi Jawa menganggap bahwa gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Beliau adalah dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana yang berada di gunung Mahendra di daerah Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu).

Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah “gong”, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.

Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).


Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.


       Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.

Sebagaimana kita ketahui, bentuk dari instrumen gong adalah bulat, lingkaran, dan mempunyai titik di tengahnya sebagai pusat resonansi dengan bentuk yang lebih menonjol. Belakangnya berbentuk seperti pinggiran cawan, sebagai bagian dari resonator instrumen tersebut. Gong dibuat dari bahan logam, baik itu dari kuningan, perunggu, maupun besi, serta dari logam lainnya. Namun umumnya gong terbuat dari bahan tembaga atau kuningan dan perunggu. Bunyi yang dihasilkan dari instrumen gong berada di wilayah atau range nada rendah, namun memiliki overtone series yang menjangkau lebih dari tingkatan harmoni ke enam belas.


       Gong terbuat dari perunggu berbentuk bulat berongga dengan pencon (benjolan) di tengah. Gong ditata dengan cara digantung pada rancakan/ gayor. Ukuran suwukan / siyem lebih kecil dari gong, namun lebih besar dari kempul. Seperangkat gamelan  minimal terdapat dua buah suwukan. Suwukan bernada 2 dan 1 slendro. Kempul terbuat dari perunggu berbentuk bulat berongga dengan pencon (benjolan) di tengah. Kempul ditata dengan cara digantung pada rancakan / gayor. Ukuran kempul lebih kecil dari gong dan  suwukan.

Gong memiliki bentuk paling besar sehingga memiliki suara paling rendah di antara instrument gamelan lainya. Gong merupakan instrument yang paling dihargai dari semua instrument gamelan karena dianggap sebagai jiwa gamelan. Gong dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

1. Gong siyem

     Besarnya di antara kempul dan gong gedhe (besar).

2. Gong suwukan

    Besarnya di antara kempul dan gong gedhe (besar).

3. Gong gedhe

     Gong yang bentuknya paling besar.






Sumber Gambar:
http://nonobudparpora.wordpress.com/2011/04/07/gamelan/

Teman Dekat Itu.......



Pada suatu sore hari di sekitar kampus

A: "Eh mbak, menurutku aktivis-aktivis itu nggak pada punya teman dekat. menurut mu gimana?"
B: "Ehm...... nggak juga sih."
A: "Lha kan saking sibuknya jadi jauh sama temen-temennya, dah nggak bisa bareng-bareng lagi. dia punya kesibukan lain dan temennya juga punya kesibukan lain akhirnya jauh deh."
B: "Wah itu nggak bisa dibilang nggak punya temen deket dong. kalau deskripsi temen deket menurut kamu kayak yang di sinetron-sinetron itu, yang kemana-mana bareng terus dan seolah-olah tak terpisahkan, mungkin iya bener pendapatmu. Tapi temen deket kan bukan sekedar itu saja. Teman dekat ya dekat di hati, bisa diajak saling berbagi, saling menasehati dalam kebaikan."
A: "Lha gimana biar bisa kayak gitu mbak? orang ketemu aja jarang?"
B: "Jika kita punya saling keterikatan hati, sama-sama merasakan kita sesama muslim yang bersaudara dan Allah telah mempersatukan hati kita. Meskipun jarang ketemu tetap saling memberi semangat dan doa untuk saudaranya yang juga berjuang di ranah nya masing-masing. Akan selalu ada kerinduan terhadap saudaranya."
A: "ooo..... iyo tho mbak?"
B: "Itu sih yang aku rasakan."

Mungkin terdapat perbedaan persepsi atau pandangan setiap orang terhadap definisi teman dekat ini. Ada yang berpendapat bahwa teman dekat adalah yang dekat secara lahiriah. Ada yang berpendapat aktivis itu temannya banyak karena banyak yang dia kenal dan kenal dia. Ada juga yang mengatakan kalau teman dekat itu yang menuntut pertemuan fisik lebih banyak.


Menurut hemat saya, aktivis memang memiliki banyak teman karena banyak yang dia kenal dan kenal dia hanya saja dari sekian banyak teman itu belum tentu ada yang benar-benar menjadi teman dekatnya. Karena bagi saya teman dekat itu yang bisa diajak berdiskusi mengenai masalah-masalah pribadi, yang bisa saling berempati, dan saling memiliki keterikatan hati. Jadi ia yang dekat di hati tetapi tidak terlalu jauh di mata.




Sumber gambar:

http://riyuyuri.wordpress.com/2011/12/19/persahabatan-kasih-sayang-seekor-binatang/