Jumat, 01 Mei 2015


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dewasa ini, kebutuhan energi adalah masalah utama yang dihadapi oleh beberapa negara, termasuk di Indonesia. Penduduk dan pertumbuhan pendapatan adalah dua kekuatan pendorong yang paling kuat di balik permintaan energi. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 237.556.363 orang, dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49 % per tahun dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1%. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung tahun 2010 berada pada kisaran 4,53 ± 1% meningkat tajam bila dibandingkan dengan tahun 2009 yang berkisar 1,34 ± 1 %.
Kebutuhan energi final (akhir) akan meningkat dengan pertumbuhan 3,4% per tahun dan mencapai jumlah sekitar 8146 peta joules (PJ) pada tahun 2025. Jumlah ini sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan energi final di awal studi tahun 2000. Pertumbuhan jenis energi yang paling besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 GWe di tahun 2000 menjadi sekitar 100 GWe di tahun 2025. Dari jumlah kapasitas pembangkitan ini, sekitar 75% akan dibutuhkan pada jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali). Dari berbagai jenis energi yang tersedia untuk pembangkitan listrik dan dilihat dari sisi ketersediaan dan keekonomiannya, maka gas akan mendominasi penyediaan energi untuk pembangkitan energi listrik sekitar 40% untuk wilayah Jamali. Batubara akan muncul sebagai pensuplai kedua setelah gas, yaitu sekitar 30% untuk wilayah Jamali. Sisanya sekitar 30% akan disuplai oleh jenis energi yang lain, yaitu hidro, mikrohidro, geothermal dan energi baru dan terbarukan lainnya.[1]
Dari sisi perekonomian, ketersediaan energi listrik menjadi salah satu variabel penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara. Berbagai industri manufaktur hanya akan bisa tumbuh dan berkembang di tempat yang menyediakan pasokan energi murah dan berkesinambungan. Jika indonesia ingin menjadi negara industri, maka harga listrik harus murah dan dalam jumlah yang besar. Semakin besar jumlah energi dan semakin murahnya harga energi maka secara tidak langsung industri-industri di indonesia akan cepat berkembang, dan mampu bersaing secara regional. Diharapkan energi nuklir dapat menjadi solusi masalah energi di Indonesia dengan menyumbang sekitar 2% pada tahun 2025. Energi alternatif yang menjanjikan dan bersih lingkungan dalam skala besar hanya PLTN. Bila mengandalkan energi baru lainnya seperti panas bumi, energi surya dan mikro hidro masih kurang. Biaya dan keekonomian energi terbarukan sangat mahal dan hanya bisa dikembangkan dalam skala kecil. Biaya listrik panel surya bisa mencapai 30 sen dollar AS per kWh, batubara 4 sen dollar AS sedangkan nuklir 6-7 sen dollar AS. Penggunaan energi fosil secara terus menerus dalam jumlah besar bukan hanya menimbulkan masalah pada efek lingkungan, akan tetapi juga karena sumber energi fosil terbatas ketersediannya.[1] (Rr.Arum)
Untuk membangun sebuah PLTN maka harus belajar dari peristiwa Fukushima daichi, Chernobyl, dan Three mile island. Semuanya memiliki dampak radiasi tidak baik terhadap manusia juga terhadap lingkungan. Walaupun begitu dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya manusia menerima paparan radiasi namun masih dalam batas radiasi yang wajar, sehingga penggunaan energi nuklir akan aman jika dikelola secara disiplin dan bijak.
    1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan PLTN?
2.      Apa yang dimaksud reaktor nuklir dan jenis-jenisnya?
3.      Bagaimana kronologi kejadian Fukushima?
4.      Bagaimana reaksi dunia terhadap energi nuklir pasca peristiwa Fukushima?
    1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari peristiwa Fukushima terhadap energi nuklir masa depan.



BAB II
PEMBAHASAN

     2.1  Definisi PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)
PLTN adalah stasiun pembangkit listrik termal di mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik. Pada PLTN, energi panas yang dihasilkan berasal dari reaksi nuklir digunakan untuk menguapkan air pendingin. Uap ini digunakan untuk menggerakkan turbin sehingga diperoleh energi kinetik untuk memutar generator yang akhirnya menghasilkan energi listrik.
Fukushima Dai-ichi, adalah sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir yang terletak di kota Okuma di Distrik Futaba, Prefektur Fukushima, Jepang. Dengan 6 unit terpisah yang terletak di situs dengan jumlah tenaga 4,7 GW, Fukushima I adalah satu dari 25 pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia. Fukushima I adalah pembangkit listrik tenaga nuklir pertama yang dibangun dan dijalanakan seluruhnya oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO).
     2.2  Reaktor Nuklir
Reaktor nuklir adalah tempat terjadinya reaksi inti berantai terkendali, baik pembelahan inti (fisi) ataupun penggabungan inti (fusi). Reaksi yang terjadi pada reaktor nuklir baik untuk reaktor penelitian maupun reaktor daya konvensional, masih didasarkan pada terjadinya reaksi pembelahan inti fissil (inti dapat belah) oleh tembakan partikel neutron. Inti fissil yang ada di alam adalah Uranium dan Thorium, sedangkan neutron bisa dihasilkan dari sumber neutron. Reaksi nuklir ini akan menghasilkan energi panas dalam jumlah cukup besar. Pada reaktor daya, energi panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghasilkan uap panas, dan selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin-generator yang bisa menghasilkan listrik. Sedangkan pada reaktor penelitian, panas yang dihasilkan tidak dimanfaatkan dan dapat dibuang ke lingkungan.
Selain energi panas, ada dua sampai tiga partikel neutron yang dihasilkan setiap kali terjadi reaksi. Partikel ini bisa dimanfaatkan untuk proses reaksi berikutnya dengan sasaran inti fissil yang belum terbelah. Reaksi ini bisa berlangsung secara terus-menerus pada kondisi neutron dan inti fissil masih memungkinkan.
Pengertian lain dari reaktor nuklir adalah suatu tempat atau perangkat yang digunakan untuk membuat, mengatur, dan menjaga kesinambungan reaksi nuklir berantai pada laju yang tetap.
Jenis-jenis reaktor nuklir:
1.   Berdasarkan fungsinya
a. Reaktor penelitian / riset, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk tujuan penelitian, pengujian bahan, pendidikan / pelatihan dan bisa digunakan juga untuk memproduksi radioisotop.
b. Reaktor daya, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk menghasilkan daya listrik / pembangkit tenaga listrik.
Ada perbedaan antara kedua reaktor ini, yaitu pada reaktor penelitian yang diutamakan adalah pemanfaatan yang dihasilkan dari reaksi nuklir untuk keperluan berbagai penelitian dan produksi radioisotop. Sedangkan panas yang dihasilkan dirancang sekecil mungkin, sehingga dapat dibuang ke lingkungan. Pada reaktor daya yang dimanfaatkan adalah uap yang bersuhu dan bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh reaksi fisi untuk memutar turbin, sedangkan neutron yang dihasilkan sebagian diserap dengan elemen kendali, dan sebagian diubah menjadi neutron untuk berlangsungnya reaksi berantai.
2.   Berdasarkan bahan pendingin yang digunakan
a.  Reaktor berpendingin air, meliputi reaktor jenis PWR (Pressurized Water Reactor = reaktor air tekan), BWR (Boiling Water Reactor = reaktor air didih), GMBWR (Graphite Moderated Boiling Water Reactor = reaktor air didih moderasi grafit), PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor = reaktor air berat tekan).
b.  Reaktor berpendingin gas, gas yang biasa digunakan adalah CO2 dan N2. Reaktor yang termasuk dalam jenis ini adalah MR (Magnox Reactor = reaktor magnox) dan AGR (Advanced Gas-Cooled Reactor = reaktor maju berpendingin gas).

3.   Berdasarkan bahan moderator (pemerlambat) yang digunakan
a.  Reaktor air ringan : bahan moderasi yang digunakan adalah air ringan. Reaktor dalam kelompok ini adalah : PWR, BWR, BMBWR.
b.  Reaktor air berat : bahan moderasi yang digunakan adalah air berat (air yang mempunyai kandungan Deuterium lebih besar daripada air ringan). Reaktor dalam kelompok ini adalah: PHWR dan Reaktor Candu (Canadium-Deuterium-Uranium).
c.  Reaktor grafit : bahan moderasi yang digunakan adalah grafit. Reaktor dalam kelompok ini adalah : MR, AGR, dan RBMR (reaktor yang digunakan oleh Rusia).
2.3 Kronologi Peristiwa Fukushima
Pada hari Jumat, 11 Maret 2011 pukul 14.46 (waktu setempat) telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.0 SR yang diikuti tsunami di Provinsi Tohoku, Jepang. Pusat gempa berada pada jarak 130 Km dari pantai kota Sendai, prefektur Miyagi, pantai timur pulau Honshu.
  Description: Distribusi Kekuatan Gempa
Gambar 1. Pusat Gempa dan Distribusinya
Pada tanggal 12 Maret, jam 01:20, tekanan dalam teras dan suppression pool sangat tinggi. jam 14:30 dilakukan PCV venting. Jam 15:36 terjadi ledakan Hidrogen pada bagian atas gedung utama PLTN-1. Kemudian setelah tekanan cukup, jam 20:20 injeksi air laut dilakukan. Pada tanggal yang sama, HPIP berhasil dijalankan pada PLTN no.2 dan 3 menggunakan daya baterai. Pada hari berikutnya, tanggal 13 Maret, jam 05.10 terjadi kegagalan sistem pendingin teras darurat (ECCS) karena daya baterai habis sedangkan listrik dari luar masih belum terkoneksi. Sehingga kejadian pada PLTN no.3 mirip dengan yang terjadi pada PLTN no.1. Pada saat yang sama, sistem pendingin darurat PLTN no.2 masih berjalan. Kemudian PLTN-2 terpaksa diventing pada jam 09:20 dan air laut diinjeksi pada jam 13:12. Namun besoknya tanggal 14 Maret jam 11:01 terjadi ledakan pada PLTN no.3. Pada tanggal 14 Maret, setelah terjadi ledakan pada PLTN no.3 pada jam 11.01, PLTN no.2 mengalami insiden yang sama, yaitu kegagalan pompa injeksi bertekanan tinggi (HPIP) pada jam 13:25. Kemudian dilakukan injeksi air laut pada jam 17:17. Ledakan hidrogren terjadi pada PLTN no.2 pada hari berikutnya tanggal 14 Maret jam 06:10.
Pengamatan video yang dibuat tanggal 27 Maret menunjukkan secara visual kerusakan PLTN no.1 dan bagian atas gedung masih utuh sehingga kondisi reaktor diprediksi masih aman. Video tersebut diperlihakan kepada peserta diskusi secara gamblang namun belum bisa ditemukan di web. Pada PLTN no.2 terlihat lobang 1 panel pada gedung lantai 3 dan asap putih keluar dari lubang tersebut. Secara keseluruhan, gedung PLTN no.2 masih baik. Sedangkan gedung PLTN no.3 mengalami kerusakan berat. Pengamatan visual ini memastikan bahwa bentuk persegi kolam penyimpanan bahan bakar bekas pada lantai 3 masih utuh. Asap putih yang keluar dari tengah gedung kemungkinan disebabkan oleh kondensasi dari air yang disemprotkan oleh pemadam kebakaran dari luar gedung. Pada PLTN no.4, ledakan Hidrogren menyebabkan atap runtuh ke bawah. Runtuhan atap ini membentuk persegi-empat sebagai gambaran bahwa wadah bahan bakar bekas masih utuh. Tutup containment berwarna kuning terlihat miring karena pada saat terjadi ledakan, teras PLTN no.4 sedang dilakukan perawatan dan tutup Containment memang sedang terbuka. Sedangkan bahan bakar dalam teras sudah dipindahkan semua ke kolam penyimpanan bahan bakar bekas. Prioritas tindakan keselamatan reaktor perlu dilakukan terhadap PLTN no.3 dan no.4 karena pengamatan visual menunjukkan bahwa kedua PLTN ini mengalami kerusakan gedung yang sangat parah dan kedua PLTN ini memiliki bahan bakar bekas yang ditampung dalam kolam penyimpanan bahan bakar dalam jumlah sama besarnya.
Gambar 2. Kondisi PLTN Fukushima Unit 1-4
            Ada 11(sebelas) buah reaktor nuklir yang sedang beroperasi di 4(empat) kompleks PLTN di daerah tersebut yaitu Fukushima I unit 1,2, dan 3, Fukushima II unit 1,2,3 dan 4, Tohoku Onagawa unit 1, 2, dan 3, dan Tokai JAPCO yg secara keseluruhan menghasilkan 9377 MWe (Megawat listrik), seluruhnya berhenti (shut down) secara otomatis. Delapan reaktor masih bisa mengoperasikan pompa sistem pendingin dengan bantuan listrik sehingga proses RHR (Reactor Heat Removal) yang berlangsung selama 4(empat) hari berjalan lancar dan reaktor berhasil berhenti (cold shutdown) selamat. Sedangkan 3(tiga) reaktor pada Fukushima I yakni unit 1, 2, dan 3 gagal melakukan RHR akibat aliran listrik dari jaringan utama padam kira-kira 1 jam setelah gempa karena datangnya tsunami.
     2.4  Dampak Peristiwa Fukushima dan Reaksi Dunia
International Atomic Energy Agency (IAEA) menjelaskan bahwa Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA) telah menyampaikan provesi International Nuclear and Radiological Event Scale (INES) mencapai level 7 untuk kecelakaan di reaktor Fukushima Daiichi. Ini tingkat provesi baru yang mempertimbangkan kecelakaan seperti yang terjadi pada Unit 1, 2, dan 3 sebagai kejadian tunggal pada INES dan total estimasi yang digunakan sebagai justifikasi di atmosfir. Sebelumnya, kecelakaan pada unir 1, 2 dan 3 berada pada level 5 menurut INES.
Dampak radiasi menimbulkan ketakutan publik dan banyak beredar rumor yang menakutkan. Radiasi tertinggi yang tercatat di kota Fukushima adalah hampir 20 mikro- Sievert, kemudian menurun secara drastis dan sedang menuju ke kondisi normal. Jumlah pelepasan zat radioaktif Iodium 131 dan Cesium 134 akibat kecelakaan di reaktor Fukushima Daiichi berdasarkan perhitungan dari Fukushima Daiichi Nuclear Power System (NPS) dan Nuclear and Industry Safety Agency (NISA) serta Nuclear Safety Commission of Japan (NSC).



Selain data di atas juga terdapat data-data dari jurnal ilmiah yang lain yang meneliti jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs di udara dan di air (laut). Pada salah satu jurnal ilmiah yang meneliti laju pelepasan 131I dan 137Cs di udara didapatkan bahwa setelah ledakan terjadi peningkatan laju pelepasan 131I dan 137Cs  di udara. Namun, pada akhir bulan Maret dan awal April mulai terlihat adanya penurunan laju pelepasan 131I dan 137Cs di udara. Data lengkapnya dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
           
Peneliti di Korea juga meneliti dampak dari peristiwa Fukushima terhadap daerah di Korea dengan meneliti jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs yang ada dalam air laut (termasuk terhadap biota lautnya) di sekitar semenanjung Korea.  Didapatkan data bahwa terjadi peningkatan jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs pada awal bulan April. Padabulan Mei terjadi penurunan jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs dan didapatkan data kesimpulan bahwa peristiwa Fukushima tidak memberikan dampak paparan radioaktif yang signifikan terhadap lingkungan di daerah Korea yang diteliti tersebut. Namun, tetap perlu dilakukan pemantauan secara terus-menerus ke depannya secara berkala.  


Tabel 3 Data Penelitian di Korea
Gambar 3 Daerah pengambilan Sampel


Dr. Robert Gale, Profesor Tamu di Imperial College London, menegaskan bahwa walaupun total korban meninggal akibat peristiwa Gempa dan Tsunami Tohoku pada tahun 2011 itu lebih dari 20.000 jiwa, tidak ada satu pun dari mereka meninggal akibat paparan radiasi dari kecelakaan Fukushima. Gale menunjukkan data awal bahwa dari 10.000 penduduk sekitar PLTN Fukushima yang menerima paparan radiasi dengan dosis tertinggi:
•    5800 menerima dosis dibawah 1 milisievert (mSv).
                        •    4100 menerima dosis antara 1 dan 10 mSv.
                        •    71 menerima dosis antara 10 mSv dan 20 mSV.
                        •    2 menerima dosis antara 20 mSv dan 23 mSv.
Sebagai perbandingan, rata-rata setahun setiap penduduk Amerika Serikat menerima radiasi latar belakang alamiah sekitar 3,1 mSv.
            Bayangan tragedi Three Mile Island di Amerika Serikat (1979) dan Chernobyl di Ukraina, bekas wilayah Uni Soviet (1986) terasa bangkit kembali. Dunia kemudian dihinggapi oleh kecemasan akan keselamatan reaktor nuklir dan bahaya radiasi pada kehidupan manusia. Ada berbagai macam reaksi dari negara-negara di dunia pasca peristiwa Fukushima. Berdasarkan data dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat tidak ada penyusutan di berbagai negara untuk mengembangkan nuklir semenjak kecelakaan Fukushima. Data tersebut memperlihatkan adanya grafik meningkat dari tahun ke tahun mengenai pengembangan konstruksi reaktor nuklir. Pada 2011, terdapat 65 reaktor, sedangkan untuk 2012 ada 67 reaktor, dan 2013 setidaknya ada sekitar 69 reaktor.
Saat ini ada sekitar 440 reaktor nuklir yang beroperasi di 31 negara, dan menyumbang sekitar 15% energi listrik dunia. Sebanyak 63 reaktor sedang dibangun, dan lebih dari 158 dalam proses pengajuan pendirian di berbagai negara.
            Pemerintah Federal Jerman memutuskan untuk sementara menutup PLTNnya yang merupakan generasi tua. Taiwan mengundurkan jadwal operasi reaktor barunya. Italia melakukan penilaian kembali perlunya memiliki reaktor nuklir. Inggris dan Amerika nyaris tidak terpengaruh dengan kejadian Fukushima dan tetap mengoperasikan PLTNnya. China dan Korea sempat terpengaruh sesaat, namun setelah kaji-ulang terhadap keselamatan, mereka semakin memantapkan program PLTN. UEA, Turki, Bangladesh dan Vietnam terus meanjutkan pembangunan proyek PLTN mereka. Tahap persiapan di negara jiran seperti Malaysia, Filipina, Thailand, terus berjalan. Di Indonesia tingkat penerimaan terhadap nuklir sempat mencapai 59,7% sebelum perisitiwa Fukushima. Angka itu lalu jatuh ke angka 49,5% pasca kecelakaan Fukushima tahun 2011. Namun perlahan angka itu naik menjadi 52,9% menjelang akhir 2012.
 
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan data penelitian dan pemaparan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peristiwa Fukushima memberikan dampak adanya pelepasan zat radioaktif ke lingkungan yang tidak memberikan dampak buruk ke lingkungan secara signifikan sampai saat ini. Terdapat beberapa negara yang sempat berpikir ulang untuk menggunakan reaktor nuklirnya. Namun, kebutuhan akan energi masa depan yang berkesinambungan dengan mempertimbangkan data dari dampak peristiwa Fukushima membuat negara-negara di dunia berpikir bahwa energi nuklir sangat dibutuhkan dan perlu dikembangkan untuk sumber energi masa depan. Sehingga banyak negara-negara di dunia tetap melanjutkan penggunaan PLTN nya atau meneruskan proyek pembuatan PLTN nya.
3.2 Saran
Belajar dari peristiwa Fukushima maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan membangun reaktor nuklir yang lebih aman, memperhatikan penempatan  posisi geografis, tahan gempa (> 10 SR) dan perlunya kedisiplinan yang tinggi dan bijaksana dalam penggunaan reaktor nuklir.




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dewasa ini, kebutuhan energi adalah masalah utama yang dihadapi oleh beberapa negara, termasuk di Indonesia. Penduduk dan pertumbuhan pendapatan adalah dua kekuatan pendorong yang paling kuat di balik permintaan energi. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 237.556.363 orang, dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49 % per tahun dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1%. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung tahun 2010 berada pada kisaran 4,53 ± 1% meningkat tajam bila dibandingkan dengan tahun 2009 yang berkisar 1,34 ± 1 %.
Kebutuhan energi final (akhir) akan meningkat dengan pertumbuhan 3,4% per tahun dan mencapai jumlah sekitar 8146 peta joules (PJ) pada tahun 2025. Jumlah ini sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan energi final di awal studi tahun 2000. Pertumbuhan jenis energi yang paling besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 GWe di tahun 2000 menjadi sekitar 100 GWe di tahun 2025. Dari jumlah kapasitas pembangkitan ini, sekitar 75% akan dibutuhkan pada jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali). Dari berbagai jenis energi yang tersedia untuk pembangkitan listrik dan dilihat dari sisi ketersediaan dan keekonomiannya, maka gas akan mendominasi penyediaan energi untuk pembangkitan energi listrik sekitar 40% untuk wilayah Jamali. Batubara akan muncul sebagai pensuplai kedua setelah gas, yaitu sekitar 30% untuk wilayah Jamali. Sisanya sekitar 30% akan disuplai oleh jenis energi yang lain, yaitu hidro, mikrohidro, geothermal dan energi baru dan terbarukan lainnya.[1]
Dari sisi perekonomian, ketersediaan energi listrik menjadi salah satu variabel penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara. Berbagai industri manufaktur hanya akan bisa tumbuh dan berkembang di tempat yang menyediakan pasokan energi murah dan berkesinambungan. Jika indonesia ingin menjadi negara industri, maka harga listrik harus murah dan dalam jumlah yang besar. Semakin besar jumlah energi dan semakin murahnya harga energi maka secara tidak langsung industri-industri di indonesia akan cepat berkembang, dan mampu bersaing secara regional. Diharapkan energi nuklir dapat menjadi solusi masalah energi di Indonesia dengan menyumbang sekitar 2% pada tahun 2025. Energi alternatif yang menjanjikan dan bersih lingkungan dalam skala besar hanya PLTN. Bila mengandalkan energi baru lainnya seperti panas bumi, energi surya dan mikro hidro masih kurang. Biaya dan keekonomian energi terbarukan sangat mahal dan hanya bisa dikembangkan dalam skala kecil. Biaya listrik panel surya bisa mencapai 30 sen dollar AS per kWh, batubara 4 sen dollar AS sedangkan nuklir 6-7 sen dollar AS. Penggunaan energi fosil secara terus menerus dalam jumlah besar bukan hanya menimbulkan masalah pada efek lingkungan, akan tetapi juga karena sumber energi fosil terbatas ketersediannya.[1] (Rr.Arum)
Untuk membangun sebuah PLTN maka harus belajar dari peristiwa Fukushima daichi, Chernobyl, dan Three mile island. Semuanya memiliki dampak radiasi tidak baik terhadap manusia juga terhadap lingkungan. Walaupun begitu dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya manusia menerima paparan radiasi namun masih dalam batas radiasi yang wajar, sehingga penggunaan energi nuklir akan aman jika dikelola secara disiplin dan bijak.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan PLTN?
2.      Apa yang dimaksud reaktor nuklir dan jenis-jenisnya?
3.      Bagaimana kronologi kejadian Fukushima?
4.      Bagaimana reaksi dunia terhadap energi nuklir pasca peristiwa Fukushima?
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari peristiwa Fukushima terhadap energi nuklir masa depan.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Definisi PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)
PLTN adalah stasiun pembangkit listrik termal di mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik. Pada PLTN, energi panas yang dihasilkan berasal dari reaksi nuklir digunakan untuk menguapkan air pendingin. Uap ini digunakan untuk menggerakkan turbin sehingga diperoleh energi kinetik untuk memutar generator yang akhirnya menghasilkan energi listrik.
Fukushima Dai-ichi, adalah sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir yang terletak di kota Okuma di Distrik Futaba, Prefektur Fukushima, Jepang. Dengan 6 unit terpisah yang terletak di situs dengan jumlah tenaga 4,7 GW, Fukushima I adalah satu dari 25 pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia. Fukushima I adalah pembangkit listrik tenaga nuklir pertama yang dibangun dan dijalanakan seluruhnya oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO).
2.2  Reaktor Nuklir
Reaktor nuklir adalah tempat terjadinya reaksi inti berantai terkendali, baik pembelahan inti (fisi) ataupun penggabungan inti (fusi). Reaksi yang terjadi pada reaktor nuklir baik untuk reaktor penelitian maupun reaktor daya konvensional, masih didasarkan pada terjadinya reaksi pembelahan inti fissil (inti dapat belah) oleh tembakan partikel neutron. Inti fissil yang ada di alam adalah Uranium dan Thorium, sedangkan neutron bisa dihasilkan dari sumber neutron. Reaksi nuklir ini akan menghasilkan energi panas dalam jumlah cukup besar. Pada reaktor daya, energi panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk menghasilkan uap panas, dan selanjutnya digunakan untuk menggerakkan turbin-generator yang bisa menghasilkan listrik. Sedangkan pada reaktor penelitian, panas yang dihasilkan tidak dimanfaatkan dan dapat dibuang ke lingkungan.
Selain energi panas, ada dua sampai tiga partikel neutron yang dihasilkan setiap kali terjadi reaksi. Partikel ini bisa dimanfaatkan untuk proses reaksi berikutnya dengan sasaran inti fissil yang belum terbelah. Reaksi ini bisa berlangsung secara terus-menerus pada kondisi neutron dan inti fissil masih memungkinkan.
Pengertian lain dari reaktor nuklir adalah suatu tempat atau perangkat yang digunakan untuk membuat, mengatur, dan menjaga kesinambungan reaksi nuklir berantai pada laju yang tetap.
Jenis-jenis reaktor nuklir:
1.   Berdasarkan fungsinya
a. Reaktor penelitian / riset, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk tujuan penelitian, pengujian bahan, pendidikan / pelatihan dan bisa digunakan juga untuk memproduksi radioisotop.
b. Reaktor daya, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk menghasilkan daya listrik / pembangkit tenaga listrik.
Ada perbedaan antara kedua reaktor ini, yaitu pada reaktor penelitian yang diutamakan adalah pemanfaatan yang dihasilkan dari reaksi nuklir untuk keperluan berbagai penelitian dan produksi radioisotop. Sedangkan panas yang dihasilkan dirancang sekecil mungkin, sehingga dapat dibuang ke lingkungan. Pada reaktor daya yang dimanfaatkan adalah uap yang bersuhu dan bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh reaksi fisi untuk memutar turbin, sedangkan neutron yang dihasilkan sebagian diserap dengan elemen kendali, dan sebagian diubah menjadi neutron untuk berlangsungnya reaksi berantai.
2.   Berdasarkan bahan pendingin yang digunakan
a.  Reaktor berpendingin air, meliputi reaktor jenis PWR (Pressurized Water Reactor = reaktor air tekan), BWR (Boiling Water Reactor = reaktor air didih), GMBWR (Graphite Moderated Boiling Water Reactor = reaktor air didih moderasi grafit), PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor = reaktor air berat tekan).
b.  Reaktor berpendingin gas, gas yang biasa digunakan adalah CO2 dan N2. Reaktor yang termasuk dalam jenis ini adalah MR (Magnox Reactor = reaktor magnox) dan AGR (Advanced Gas-Cooled Reactor = reaktor maju berpendingin gas).

3.   Berdasarkan bahan moderator (pemerlambat) yang digunakan
a.  Reaktor air ringan : bahan moderasi yang digunakan adalah air ringan. Reaktor dalam kelompok ini adalah : PWR, BWR, BMBWR.
b.  Reaktor air berat : bahan moderasi yang digunakan adalah air berat (air yang mempunyai kandungan Deuterium lebih besar daripada air ringan). Reaktor dalam kelompok ini adalah: PHWR dan Reaktor Candu (Canadium-Deuterium-Uranium).
c.  Reaktor grafit : bahan moderasi yang digunakan adalah grafit. Reaktor dalam kelompok ini adalah : MR, AGR, dan RBMR (reaktor yang digunakan oleh Rusia).
2.3 Kronologi Peristiwa Fukushima
Pada hari Jumat, 11 Maret 2011 pukul 14.46 (waktu setempat) telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.0 SR yang diikuti tsunami di Provinsi Tohoku, Jepang. Pusat gempa berada pada jarak 130 Km dari pantai kota Sendai, prefektur Miyagi, pantai timur pulau Honshu.
  Description: Distribusi Kekuatan Gempa
Gambar 1. Pusat Gempa dan Distribusinya
Pada tanggal 12 Maret, jam 01:20, tekanan dalam teras dan suppression pool sangat tinggi. jam 14:30 dilakukan PCV venting. Jam 15:36 terjadi ledakan Hidrogen pada bagian atas gedung utama PLTN-1. Kemudian setelah tekanan cukup, jam 20:20 injeksi air laut dilakukan. Pada tanggal yang sama, HPIP berhasil dijalankan pada PLTN no.2 dan 3 menggunakan daya baterai. Pada hari berikutnya, tanggal 13 Maret, jam 05.10 terjadi kegagalan sistem pendingin teras darurat (ECCS) karena daya baterai habis sedangkan listrik dari luar masih belum terkoneksi. Sehingga kejadian pada PLTN no.3 mirip dengan yang terjadi pada PLTN no.1. Pada saat yang sama, sistem pendingin darurat PLTN no.2 masih berjalan. Kemudian PLTN-2 terpaksa diventing pada jam 09:20 dan air laut diinjeksi pada jam 13:12. Namun besoknya tanggal 14 Maret jam 11:01 terjadi ledakan pada PLTN no.3. Pada tanggal 14 Maret, setelah terjadi ledakan pada PLTN no.3 pada jam 11.01, PLTN no.2 mengalami insiden yang sama, yaitu kegagalan pompa injeksi bertekanan tinggi (HPIP) pada jam 13:25. Kemudian dilakukan injeksi air laut pada jam 17:17. Ledakan hidrogren terjadi pada PLTN no.2 pada hari berikutnya tanggal 14 Maret jam 06:10.
Pengamatan video yang dibuat tanggal 27 Maret menunjukkan secara visual kerusakan PLTN no.1 dan bagian atas gedung masih utuh sehingga kondisi reaktor diprediksi masih aman. Video tersebut diperlihakan kepada peserta diskusi secara gamblang namun belum bisa ditemukan di web. Pada PLTN no.2 terlihat lobang 1 panel pada gedung lantai 3 dan asap putih keluar dari lubang tersebut. Secara keseluruhan, gedung PLTN no.2 masih baik. Sedangkan gedung PLTN no.3 mengalami kerusakan berat. Pengamatan visual ini memastikan bahwa bentuk persegi kolam penyimpanan bahan bakar bekas pada lantai 3 masih utuh. Asap putih yang keluar dari tengah gedung kemungkinan disebabkan oleh kondensasi dari air yang disemprotkan oleh pemadam kebakaran dari luar gedung. Pada PLTN no.4, ledakan Hidrogren menyebabkan atap runtuh ke bawah. Runtuhan atap ini membentuk persegi-empat sebagai gambaran bahwa wadah bahan bakar bekas masih utuh. Tutup containment berwarna kuning terlihat miring karena pada saat terjadi ledakan, teras PLTN no.4 sedang dilakukan perawatan dan tutup Containment memang sedang terbuka. Sedangkan bahan bakar dalam teras sudah dipindahkan semua ke kolam penyimpanan bahan bakar bekas. Prioritas tindakan keselamatan reaktor perlu dilakukan terhadap PLTN no.3 dan no.4 karena pengamatan visual menunjukkan bahwa kedua PLTN ini mengalami kerusakan gedung yang sangat parah dan kedua PLTN ini memiliki bahan bakar bekas yang ditampung dalam kolam penyimpanan bahan bakar dalam jumlah sama besarnya.
Gambar 2. Kondisi PLTN Fukushima Unit 1-4
            Ada 11(sebelas) buah reaktor nuklir yang sedang beroperasi di 4(empat) kompleks PLTN di daerah tersebut yaitu Fukushima I unit 1,2, dan 3, Fukushima II unit 1,2,3 dan 4, Tohoku Onagawa unit 1, 2, dan 3, dan Tokai JAPCO yg secara keseluruhan menghasilkan 9377 MWe (Megawat listrik), seluruhnya berhenti (shut down) secara otomatis. Delapan reaktor masih bisa mengoperasikan pompa sistem pendingin dengan bantuan listrik sehingga proses RHR (Reactor Heat Removal) yang berlangsung selama 4(empat) hari berjalan lancar dan reaktor berhasil berhenti (cold shutdown) selamat. Sedangkan 3(tiga) reaktor pada Fukushima I yakni unit 1, 2, dan 3 gagal melakukan RHR akibat aliran listrik dari jaringan utama padam kira-kira 1 jam setelah gempa karena datangnya tsunami.
2.4  Dampak Peristiwa Fukushima dan Reaksi Dunia
International Atomic Energy Agency (IAEA) menjelaskan bahwa Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA) telah menyampaikan provesi International Nuclear and Radiological Event Scale (INES) mencapai level 7 untuk kecelakaan di reaktor Fukushima Daiichi. Ini tingkat provesi baru yang mempertimbangkan kecelakaan seperti yang terjadi pada Unit 1, 2, dan 3 sebagai kejadian tunggal pada INES dan total estimasi yang digunakan sebagai justifikasi di atmosfir. Sebelumnya, kecelakaan pada unir 1, 2 dan 3 berada pada level 5 menurut INES.
Dampak radiasi menimbulkan ketakutan publik dan banyak beredar rumor yang menakutkan. Radiasi tertinggi yang tercatat di kota Fukushima adalah hampir 20 mikro- Sievert, kemudian menurun secara drastis dan sedang menuju ke kondisi normal. Jumlah pelepasan zat radioaktif Iodium 131 dan Cesium 134 akibat kecelakaan di reaktor Fukushima Daiichi berdasarkan perhitungan dari Fukushima Daiichi Nuclear Power System (NPS) dan Nuclear and Industry Safety Agency (NISA) serta Nuclear Safety Commission of Japan (NSC).



Selain data di atas juga terdapat data-data dari jurnal ilmiah yang lain yang meneliti jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs di udara dan di air (laut). Pada salah satu jurnal ilmiah yang meneliti laju pelepasan 131I dan 137Cs di udara didapatkan bahwa setelah ledakan terjadi peningkatan laju pelepasan 131I dan 137Cs  di udara. Namun, pada akhir bulan Maret dan awal April mulai terlihat adanya penurunan laju pelepasan 131I dan 137Cs di udara. Data lengkapnya dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
           
Peneliti di Korea juga meneliti dampak dari peristiwa Fukushima terhadap daerah di Korea dengan meneliti jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs yang ada dalam air laut (termasuk terhadap biota lautnya) di sekitar semenanjung Korea.  Didapatkan data bahwa terjadi peningkatan jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs pada awal bulan April. Padabulan Mei terjadi penurunan jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs dan didapatkan data kesimpulan bahwa peristiwa Fukushima tidak memberikan dampak paparan radioaktif yang signifikan terhadap lingkungan di daerah Korea yang diteliti tersebut. Namun, tetap perlu dilakukan pemantauan secara terus-menerus ke depannya secara berkala.  


Tabel 3 Data Penelitian di Korea
Gambar 3 Daerah pengambilan Sampel


Dr. Robert Gale, Profesor Tamu di Imperial College London, menegaskan bahwa walaupun total korban meninggal akibat peristiwa Gempa dan Tsunami Tohoku pada tahun 2011 itu lebih dari 20.000 jiwa, tidak ada satu pun dari mereka meninggal akibat paparan radiasi dari kecelakaan Fukushima. Gale menunjukkan data awal bahwa dari 10.000 penduduk sekitar PLTN Fukushima yang menerima paparan radiasi dengan dosis tertinggi:
•    5800 menerima dosis dibawah 1 milisievert (mSv).
                        •    4100 menerima dosis antara 1 dan 10 mSv.
                        •    71 menerima dosis antara 10 mSv dan 20 mSV.
                        •    2 menerima dosis antara 20 mSv dan 23 mSv.
Sebagai perbandingan, rata-rata setahun setiap penduduk Amerika Serikat menerima radiasi latar belakang alamiah sekitar 3,1 mSv.
            Bayangan tragedi Three Mile Island di Amerika Serikat (1979) dan Chernobyl di Ukraina, bekas wilayah Uni Soviet (1986) terasa bangkit kembali. Dunia kemudian dihinggapi oleh kecemasan akan keselamatan reaktor nuklir dan bahaya radiasi pada kehidupan manusia. Ada berbagai macam reaksi dari negara-negara di dunia pasca peristiwa Fukushima. Berdasarkan data dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat tidak ada penyusutan di berbagai negara untuk mengembangkan nuklir semenjak kecelakaan Fukushima. Data tersebut memperlihatkan adanya grafik meningkat dari tahun ke tahun mengenai pengembangan konstruksi reaktor nuklir. Pada 2011, terdapat 65 reaktor, sedangkan untuk 2012 ada 67 reaktor, dan 2013 setidaknya ada sekitar 69 reaktor.
Saat ini ada sekitar 440 reaktor nuklir yang beroperasi di 31 negara, dan menyumbang sekitar 15% energi listrik dunia. Sebanyak 63 reaktor sedang dibangun, dan lebih dari 158 dalam proses pengajuan pendirian di berbagai negara.
            Pemerintah Federal Jerman memutuskan untuk sementara menutup PLTNnya yang merupakan generasi tua. Taiwan mengundurkan jadwal operasi reaktor barunya. Italia melakukan penilaian kembali perlunya memiliki reaktor nuklir. Inggris dan Amerika nyaris tidak terpengaruh dengan kejadian Fukushima dan tetap mengoperasikan PLTNnya. China dan Korea sempat terpengaruh sesaat, namun setelah kaji-ulang terhadap keselamatan, mereka semakin memantapkan program PLTN. UEA, Turki, Bangladesh dan Vietnam terus meanjutkan pembangunan proyek PLTN mereka. Tahap persiapan di negara jiran seperti Malaysia, Filipina, Thailand, terus berjalan. Di Indonesia tingkat penerimaan terhadap nuklir sempat mencapai 59,7% sebelum perisitiwa Fukushima. Angka itu lalu jatuh ke angka 49,5% pasca kecelakaan Fukushima tahun 2011. Namun perlahan angka itu naik menjadi 52,9% menjelang akhir 2012.
 
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan data penelitian dan pemaparan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peristiwa Fukushima memberikan dampak adanya pelepasan zat radioaktif ke lingkungan yang tidak memberikan dampak buruk ke lingkungan secara signifikan sampai saat ini. Terdapat beberapa negara yang sempat berpikir ulang untuk menggunakan reaktor nuklirnya. Namun, kebutuhan akan energi masa depan yang berkesinambungan dengan mempertimbangkan data dari dampak peristiwa Fukushima membuat negara-negara di dunia berpikir bahwa energi nuklir sangat dibutuhkan dan perlu dikembangkan untuk sumber energi masa depan. Sehingga banyak negara-negara di dunia tetap melanjutkan penggunaan PLTN nya atau meneruskan proyek pembuatan PLTN nya.
3.2 Saran
Belajar dari peristiwa Fukushima maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan membangun reaktor nuklir yang lebih aman, memperhatikan penempatan  posisi geografis, tahan gempa (> 10 SR) dan perlunya kedisiplinan yang tinggi dan bijaksana dalam penggunaan reaktor nuklir.



Kamis, 08 Januari 2015

AKU INGIN




Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, 
dengan kata yang tak sempat diucapkan 
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono