BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, kebutuhan energi adalah masalah utama
yang dihadapi oleh beberapa negara, termasuk di Indonesia. Penduduk dan
pertumbuhan pendapatan adalah dua kekuatan pendorong yang paling kuat di balik
permintaan energi. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 237.556.363
orang, dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49 % per tahun dan pertumbuhan ekonomi
sebesar 6,1%. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung tahun 2010
berada pada kisaran 4,53 ± 1% meningkat tajam bila dibandingkan dengan tahun
2009 yang berkisar 1,34 ± 1 %.
Kebutuhan energi final (akhir) akan meningkat dengan
pertumbuhan 3,4% per tahun dan mencapai jumlah sekitar 8146 peta joules (PJ)
pada tahun 2025. Jumlah ini sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan
energi final di awal studi tahun 2000. Pertumbuhan jenis energi yang paling
besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai
lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 GWe di tahun 2000
menjadi sekitar 100 GWe di tahun 2025. Dari jumlah kapasitas pembangkitan ini,
sekitar 75% akan dibutuhkan pada jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali).
Dari berbagai jenis energi yang tersedia untuk pembangkitan listrik dan dilihat
dari sisi ketersediaan dan keekonomiannya, maka gas akan mendominasi penyediaan
energi untuk pembangkitan energi listrik sekitar 40% untuk wilayah Jamali.
Batubara akan muncul sebagai pensuplai kedua setelah gas, yaitu sekitar 30%
untuk wilayah Jamali. Sisanya sekitar 30% akan disuplai oleh jenis energi yang
lain, yaitu hidro, mikrohidro, geothermal dan energi baru dan terbarukan
lainnya.[1]
Dari sisi perekonomian, ketersediaan energi listrik
menjadi salah satu variabel penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu
negara. Berbagai industri manufaktur hanya akan bisa tumbuh dan berkembang di
tempat yang menyediakan pasokan energi murah dan berkesinambungan. Jika
indonesia ingin menjadi negara industri, maka harga listrik harus murah dan
dalam jumlah yang besar. Semakin besar jumlah energi dan semakin murahnya harga
energi maka secara tidak langsung industri-industri di indonesia akan cepat
berkembang, dan mampu bersaing secara regional. Diharapkan energi nuklir dapat menjadi
solusi masalah energi di Indonesia dengan menyumbang sekitar 2% pada tahun
2025. Energi alternatif yang menjanjikan dan bersih lingkungan dalam skala
besar hanya PLTN. Bila mengandalkan energi baru lainnya seperti panas bumi,
energi surya dan mikro hidro masih kurang. Biaya dan keekonomian energi
terbarukan sangat mahal dan hanya bisa dikembangkan dalam skala kecil. Biaya
listrik panel surya bisa mencapai 30 sen dollar AS per kWh, batubara 4 sen
dollar AS sedangkan nuklir 6-7 sen dollar AS. Penggunaan energi fosil secara
terus menerus dalam jumlah besar bukan hanya menimbulkan masalah pada efek
lingkungan, akan tetapi juga karena sumber energi fosil terbatas
ketersediannya.[1] (Rr.Arum)
Untuk membangun sebuah PLTN maka harus belajar dari
peristiwa Fukushima daichi, Chernobyl, dan Three mile island. Semuanya memiliki
dampak radiasi tidak baik terhadap manusia juga terhadap lingkungan. Walaupun
begitu dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya manusia menerima paparan radiasi
namun masih dalam batas radiasi yang wajar, sehingga penggunaan energi nuklir akan
aman jika dikelola secara disiplin dan bijak.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan PLTN?
2. Apa
yang dimaksud reaktor nuklir dan jenis-jenisnya?
3. Bagaimana
kronologi kejadian Fukushima?
4. Bagaimana
reaksi dunia terhadap energi nuklir pasca peristiwa Fukushima?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
dampak dari peristiwa Fukushima terhadap energi nuklir masa depan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi PLTN (Pembangkit Listrik
Tenaga Nuklir)
PLTN adalah stasiun pembangkit listrik termal di
mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir
pembangkit listrik. Pada PLTN, energi panas yang dihasilkan berasal dari reaksi
nuklir digunakan untuk menguapkan air pendingin. Uap ini digunakan untuk
menggerakkan turbin sehingga diperoleh energi kinetik untuk memutar generator
yang akhirnya menghasilkan energi listrik.
Fukushima Dai-ichi, adalah sebuah pembangkit listrik
tenaga nuklir yang terletak di kota Okuma di Distrik Futaba, Prefektur
Fukushima, Jepang. Dengan 6 unit terpisah yang terletak di situs dengan jumlah
tenaga 4,7 GW, Fukushima I adalah satu dari 25 pembangkit listrik tenaga nuklir
terbesar di dunia. Fukushima I adalah pembangkit listrik tenaga nuklir pertama
yang dibangun dan dijalanakan seluruhnya oleh Tokyo Electric Power Company
(TEPCO).
2.2 Reaktor Nuklir
Reaktor nuklir adalah tempat terjadinya reaksi inti
berantai terkendali, baik pembelahan inti (fisi) ataupun penggabungan inti
(fusi). Reaksi yang terjadi pada reaktor nuklir baik untuk reaktor penelitian
maupun reaktor daya konvensional, masih didasarkan pada terjadinya reaksi
pembelahan inti fissil (inti dapat belah) oleh tembakan partikel neutron. Inti
fissil yang ada di alam adalah Uranium dan Thorium, sedangkan neutron bisa
dihasilkan dari sumber neutron. Reaksi nuklir ini akan menghasilkan energi
panas dalam jumlah cukup besar. Pada reaktor daya, energi panas yang dihasilkan
dapat digunakan untuk menghasilkan uap panas, dan selanjutnya digunakan untuk
menggerakkan turbin-generator yang bisa menghasilkan listrik. Sedangkan pada
reaktor penelitian, panas yang dihasilkan tidak dimanfaatkan dan dapat dibuang
ke lingkungan.
Selain
energi panas, ada dua sampai tiga partikel neutron yang dihasilkan setiap kali
terjadi reaksi. Partikel ini bisa dimanfaatkan untuk proses reaksi berikutnya
dengan sasaran inti fissil yang belum terbelah. Reaksi ini bisa berlangsung
secara terus-menerus pada kondisi neutron dan inti fissil masih memungkinkan.
Pengertian lain dari reaktor nuklir adalah suatu
tempat atau perangkat yang digunakan untuk membuat, mengatur, dan menjaga
kesinambungan reaksi nuklir berantai pada laju yang tetap.
Jenis-jenis reaktor nuklir:
1. Berdasarkan fungsinya
a.
Reaktor penelitian / riset, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk tujuan
penelitian, pengujian bahan, pendidikan / pelatihan dan bisa digunakan juga
untuk memproduksi radioisotop.
b.
Reaktor daya, yaitu reaktor nuklir yang digunakan untuk menghasilkan daya
listrik / pembangkit tenaga listrik.
Ada perbedaan antara kedua reaktor ini, yaitu pada reaktor
penelitian yang diutamakan adalah pemanfaatan yang dihasilkan dari reaksi
nuklir untuk keperluan berbagai penelitian dan produksi radioisotop. Sedangkan
panas yang dihasilkan dirancang sekecil mungkin, sehingga dapat dibuang ke
lingkungan. Pada reaktor daya yang dimanfaatkan adalah uap yang bersuhu dan
bertekanan tinggi yang dihasilkan oleh reaksi fisi untuk memutar turbin,
sedangkan neutron yang dihasilkan sebagian diserap dengan elemen kendali, dan
sebagian diubah menjadi neutron untuk berlangsungnya reaksi berantai.
2. Berdasarkan bahan pendingin yang digunakan
a. Reaktor berpendingin air, meliputi reaktor
jenis PWR (Pressurized Water Reactor = reaktor air tekan), BWR (Boiling Water
Reactor = reaktor air didih), GMBWR (Graphite Moderated Boiling Water Reactor =
reaktor air didih moderasi grafit), PHWR (Pressurized Heavy Water Reactor =
reaktor air berat tekan).
b. Reaktor
berpendingin gas, gas yang biasa digunakan adalah CO2 dan N2. Reaktor yang
termasuk dalam jenis ini adalah MR (Magnox Reactor = reaktor magnox) dan AGR
(Advanced Gas-Cooled Reactor = reaktor maju berpendingin gas).
3. Berdasarkan bahan moderator (pemerlambat)
yang digunakan
a. Reaktor air ringan : bahan moderasi yang
digunakan adalah air ringan. Reaktor dalam kelompok ini adalah : PWR, BWR,
BMBWR.
b. Reaktor air berat : bahan moderasi yang
digunakan adalah air berat (air yang mempunyai kandungan Deuterium lebih besar
daripada air ringan). Reaktor dalam kelompok ini adalah: PHWR dan Reaktor Candu
(Canadium-Deuterium-Uranium).
c. Reaktor
grafit : bahan moderasi yang digunakan adalah grafit. Reaktor dalam kelompok
ini adalah : MR, AGR, dan RBMR (reaktor yang digunakan oleh Rusia).
2.3
Kronologi Peristiwa Fukushima
Pada hari Jumat, 11 Maret 2011 pukul 14.46 (waktu
setempat) telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 9.0 SR yang diikuti tsunami
di Provinsi Tohoku, Jepang. Pusat gempa berada pada jarak 130 Km dari pantai
kota Sendai, prefektur Miyagi, pantai timur pulau Honshu.

Gambar 1. Pusat Gempa dan
Distribusinya
Pada tanggal 12
Maret, jam 01:20, tekanan dalam teras dan suppression pool sangat tinggi. jam
14:30 dilakukan PCV venting. Jam 15:36 terjadi ledakan Hidrogen pada bagian
atas gedung utama PLTN-1. Kemudian setelah tekanan cukup, jam 20:20 injeksi air
laut dilakukan. Pada tanggal yang sama, HPIP berhasil dijalankan pada PLTN no.2
dan 3 menggunakan daya baterai. Pada hari berikutnya, tanggal 13 Maret, jam
05.10 terjadi kegagalan sistem pendingin teras darurat (ECCS) karena daya
baterai habis sedangkan listrik dari luar masih belum terkoneksi. Sehingga
kejadian pada PLTN no.3 mirip dengan yang terjadi pada PLTN no.1. Pada saat yang
sama, sistem pendingin darurat PLTN no.2 masih berjalan. Kemudian PLTN-2 terpaksa
diventing pada jam 09:20 dan air laut diinjeksi pada jam 13:12. Namun besoknya tanggal
14 Maret jam 11:01 terjadi ledakan pada PLTN no.3. Pada tanggal 14 Maret,
setelah terjadi ledakan pada PLTN no.3 pada jam 11.01, PLTN no.2 mengalami
insiden yang sama, yaitu kegagalan pompa injeksi bertekanan tinggi (HPIP) pada
jam 13:25. Kemudian dilakukan injeksi air laut pada jam 17:17. Ledakan
hidrogren terjadi pada PLTN no.2 pada hari berikutnya tanggal 14 Maret jam
06:10.
Pengamatan video yang dibuat tanggal 27 Maret
menunjukkan secara visual kerusakan PLTN no.1 dan bagian atas gedung masih utuh
sehingga kondisi reaktor diprediksi masih aman. Video tersebut diperlihakan
kepada peserta diskusi secara gamblang namun belum bisa ditemukan di web. Pada
PLTN no.2 terlihat lobang 1 panel pada gedung lantai 3 dan asap putih keluar
dari lubang tersebut. Secara keseluruhan, gedung PLTN no.2 masih baik.
Sedangkan gedung PLTN no.3 mengalami kerusakan berat. Pengamatan visual ini
memastikan bahwa bentuk persegi kolam penyimpanan bahan bakar bekas pada lantai
3 masih utuh. Asap putih yang keluar dari tengah gedung kemungkinan disebabkan
oleh kondensasi dari air yang disemprotkan oleh pemadam kebakaran dari luar gedung.
Pada PLTN no.4, ledakan Hidrogren menyebabkan atap runtuh ke bawah. Runtuhan
atap ini membentuk persegi-empat sebagai gambaran bahwa wadah bahan bakar bekas
masih utuh. Tutup containment berwarna kuning terlihat miring karena pada saat terjadi
ledakan, teras PLTN no.4 sedang dilakukan perawatan dan tutup Containment memang
sedang terbuka. Sedangkan bahan bakar dalam teras sudah dipindahkan semua ke kolam
penyimpanan bahan bakar bekas. Prioritas tindakan keselamatan reaktor perlu dilakukan
terhadap PLTN no.3 dan no.4 karena pengamatan visual menunjukkan bahwa kedua
PLTN ini mengalami kerusakan gedung yang sangat parah dan kedua PLTN ini memiliki
bahan bakar bekas yang ditampung dalam kolam penyimpanan bahan bakar dalam
jumlah sama besarnya.

Gambar 2. Kondisi PLTN Fukushima Unit 1-4
Ada
11(sebelas) buah reaktor nuklir yang sedang beroperasi di 4(empat) kompleks
PLTN di daerah tersebut yaitu Fukushima I unit 1,2, dan 3, Fukushima II unit
1,2,3 dan 4, Tohoku Onagawa unit 1, 2, dan 3, dan Tokai JAPCO yg secara
keseluruhan menghasilkan 9377 MWe (Megawat listrik), seluruhnya berhenti (shut
down) secara otomatis. Delapan reaktor masih bisa mengoperasikan pompa sistem
pendingin dengan bantuan listrik sehingga proses RHR (Reactor Heat Removal)
yang berlangsung selama 4(empat) hari berjalan lancar dan reaktor berhasil
berhenti (cold shutdown) selamat. Sedangkan 3(tiga) reaktor pada Fukushima I
yakni unit 1, 2, dan 3 gagal melakukan RHR akibat aliran listrik dari jaringan
utama padam kira-kira 1 jam setelah gempa karena datangnya tsunami.
2.4 Dampak Peristiwa Fukushima dan
Reaksi Dunia
International Atomic Energy Agency
(IAEA) menjelaskan bahwa Nuclear and Industrial Safety Agency (NISA) telah
menyampaikan provesi International Nuclear and Radiological Event Scale (INES)
mencapai level 7 untuk kecelakaan di reaktor Fukushima Daiichi. Ini tingkat
provesi baru yang mempertimbangkan kecelakaan seperti yang terjadi pada Unit 1,
2, dan 3 sebagai kejadian tunggal pada INES dan total estimasi yang digunakan
sebagai justifikasi di atmosfir. Sebelumnya, kecelakaan pada unir 1, 2 dan 3 berada
pada level 5 menurut INES.
Dampak radiasi menimbulkan ketakutan
publik dan banyak beredar rumor yang menakutkan. Radiasi tertinggi yang
tercatat di kota Fukushima adalah hampir 20 mikro- Sievert, kemudian menurun
secara drastis dan sedang menuju ke kondisi normal. Jumlah pelepasan zat
radioaktif Iodium 131 dan Cesium 134 akibat kecelakaan di reaktor Fukushima
Daiichi berdasarkan perhitungan dari Fukushima Daiichi Nuclear Power System
(NPS) dan Nuclear and Industry Safety Agency (NISA) serta Nuclear Safety Commission
of Japan (NSC).

Selain data di atas juga terdapat data-data dari
jurnal ilmiah yang lain yang meneliti jumlah 131I, 134Cs,
dan 137Cs di udara dan di air (laut). Pada salah satu jurnal ilmiah
yang meneliti laju pelepasan 131I dan 137Cs di udara
didapatkan bahwa setelah ledakan terjadi peningkatan laju pelepasan 131I
dan 137Cs di udara. Namun,
pada akhir bulan Maret dan awal April mulai terlihat adanya penurunan laju
pelepasan 131I dan 137Cs di udara. Data lengkapnya dapat
dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

Peneliti di Korea juga meneliti dampak dari
peristiwa Fukushima terhadap daerah di Korea dengan meneliti jumlah 131I,
134Cs, dan 137Cs yang ada dalam air laut (termasuk
terhadap biota lautnya) di sekitar semenanjung Korea. Didapatkan data bahwa terjadi peningkatan
jumlah 131I, 134Cs, dan 137Cs pada awal bulan
April. Padabulan Mei terjadi penurunan jumlah 131I, 134Cs,
dan 137Cs dan didapatkan data kesimpulan bahwa peristiwa Fukushima
tidak memberikan dampak paparan radioaktif yang signifikan terhadap lingkungan
di daerah Korea yang diteliti tersebut. Namun, tetap perlu dilakukan pemantauan
secara terus-menerus ke depannya secara berkala.
Tabel 3 Data
Penelitian di Korea


Gambar
3 Daerah pengambilan Sampel
Dr. Robert Gale, Profesor Tamu di
Imperial College London, menegaskan bahwa walaupun total korban meninggal
akibat peristiwa Gempa dan Tsunami Tohoku pada tahun 2011 itu lebih dari 20.000
jiwa, tidak ada satu pun dari mereka meninggal akibat paparan radiasi dari
kecelakaan Fukushima. Gale menunjukkan data awal bahwa dari 10.000 penduduk
sekitar PLTN Fukushima yang menerima paparan radiasi dengan dosis tertinggi:
• 5800 menerima
dosis dibawah 1 milisievert (mSv).
•
4100 menerima dosis antara 1 dan 10 mSv.
•
71 menerima dosis antara 10 mSv dan 20 mSV.
•
2 menerima dosis antara 20 mSv dan 23 mSv.
Sebagai
perbandingan, rata-rata setahun setiap penduduk Amerika Serikat menerima
radiasi latar belakang alamiah sekitar 3,1 mSv.
Bayangan tragedi Three Mile Island
di Amerika Serikat (1979) dan Chernobyl di Ukraina, bekas wilayah Uni Soviet
(1986) terasa bangkit kembali. Dunia kemudian dihinggapi oleh kecemasan akan
keselamatan reaktor nuklir dan bahaya radiasi pada kehidupan manusia. Ada
berbagai macam reaksi dari negara-negara di dunia pasca peristiwa Fukushima.
Berdasarkan
data dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mencatat tidak ada penyusutan
di berbagai negara untuk mengembangkan nuklir semenjak kecelakaan Fukushima. Data
tersebut memperlihatkan adanya grafik meningkat dari tahun ke tahun mengenai
pengembangan konstruksi reaktor nuklir. Pada 2011, terdapat 65 reaktor,
sedangkan untuk 2012 ada 67 reaktor, dan 2013 setidaknya ada sekitar 69
reaktor.
Saat ini ada
sekitar 440 reaktor nuklir yang beroperasi di 31 negara, dan menyumbang sekitar
15% energi listrik dunia. Sebanyak 63 reaktor sedang dibangun, dan lebih dari
158 dalam proses pengajuan pendirian di berbagai negara.
Pemerintah Federal Jerman memutuskan
untuk sementara menutup PLTNnya yang merupakan generasi tua. Taiwan
mengundurkan jadwal operasi reaktor barunya. Italia melakukan penilaian kembali
perlunya memiliki reaktor nuklir. Inggris dan Amerika nyaris tidak terpengaruh
dengan kejadian Fukushima dan tetap mengoperasikan PLTNnya. China dan Korea
sempat terpengaruh sesaat, namun setelah kaji-ulang terhadap keselamatan,
mereka semakin memantapkan program PLTN. UEA, Turki, Bangladesh dan Vietnam
terus meanjutkan pembangunan proyek PLTN mereka. Tahap persiapan di negara
jiran seperti Malaysia, Filipina, Thailand, terus berjalan. Di Indonesia
tingkat penerimaan terhadap nuklir sempat mencapai 59,7% sebelum perisitiwa
Fukushima. Angka itu lalu jatuh ke angka 49,5% pasca kecelakaan Fukushima tahun
2011. Namun perlahan angka itu naik menjadi 52,9% menjelang akhir 2012.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan data penelitian dan
pemaparan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peristiwa Fukushima
memberikan dampak adanya pelepasan zat radioaktif ke lingkungan yang tidak
memberikan dampak buruk ke lingkungan secara signifikan sampai saat ini. Terdapat
beberapa negara yang sempat berpikir ulang untuk menggunakan reaktor nuklirnya.
Namun, kebutuhan akan energi masa depan yang berkesinambungan dengan
mempertimbangkan data dari dampak peristiwa Fukushima membuat negara-negara di
dunia berpikir bahwa energi nuklir sangat dibutuhkan dan perlu dikembangkan
untuk sumber energi masa depan. Sehingga banyak negara-negara di dunia tetap
melanjutkan penggunaan PLTN nya atau meneruskan proyek pembuatan PLTN nya.
3.2 Saran
Belajar dari peristiwa Fukushima
maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan membangun
reaktor nuklir yang lebih aman, memperhatikan penempatan posisi geografis, tahan gempa (> 10 SR) dan
perlunya kedisiplinan yang tinggi dan bijaksana dalam penggunaan reaktor
nuklir.