Selasa, 17 Desember 2013

Part 2: Berkawan Media

       


             Pada jaman globalisasi seperti sekarang ini telah banyak orang mengenal internet. Mayoritas orang memiliki sosial media entah itu FB, twitter, atau yang lainnya. Selain media sosial masih banyak media lain yang ada dan tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Jadi sangat tidak wajar jika orang masih merasa tidak dapat menyampaikan gagasan atau idenya. Hanya saja pada realita di lapangannya yang kita temukan banyak orang memakai sosial media hanya untuk menyampaikan kegalauan akan dirinya. Ya memang mungkin itulah kodratnya manusia yang ingin diperhatikan dan didengar. Padahal jika mau sedikit saja melihat keluar, pasti akan banyak masalah yang ditemukan di lingkungan sekitar kita. Ada banyak hal yang membuat kita galau, tidak sekedar kegalauan terhadap diri sendiri tapi kegalauan terhadap masalah sosial masyarakat. 

             Pada part 1, telah dibahas bagaimana seorang jurnalis dan adanya institusi media di belakangnya. Seperti yang kita tahu juga media itu dapat menjadi kawan ataupun lawan. Nah saat ini kita belajar bagaimana bisa berkawan dengan media.

Hal yang harus kita lakukan pertama adalah melakukan riset atau survey sebagai dasar bergerak. Tinjau elektabilitas, popularitas, media yang efektif untuk promosi produk/idenya dan lakukan "aktivasi online" atau pertemuan daratnya.

Pada radio hanya bisa fokus pada 1 segmen yang dituju saja. Usaha yang bisa dilakukan adalah memperbanyak listenernya (pendengangarnya). Oleh karena itu perlu dilakukan riset tentang profil pendengarnya. Kemudian dilakukan segmentasi dari segi ekonomi, pendidikan, usia, dll. Begitu juga dengan media sosial seperti twitter dan facebook. 

Dalam psikologi marketing/pasar yang perlu dilakukan adalah sesuaikan produk dengan penikmatnya. Pada umumnya kampanye hanya berpengaruh di awal saja, selanjutnya orang akan tetap melihat produknya seperti apa. Jika produknya sudah baik tinggal kampanyenya atau promosinya. Istilahnya kalau lagu, liriknya bisa saja sama yang diubah-ubah adalah nadanya. Hal ini agar pendengar/penikmat/konsumen tertarik untuk memilihnya. Nah..... disini peran media sangat besar. Ia sebagai tools untuk membangun nada, membuat pencitraan dan menghias cover/packaging.

Semua harus direncanakan dengan baik atau bahkan sengaja dibuat skenarionya lebih dulu. Misalkan membuat akun twitter yang unik dan tidak dikenal, ketika telah banyak followernya dapat dimanfaatkan untuk promosi, menyebar ide atau gagasan, dan lain sebagainya. Begitu pun ketika membuat sesuatu, bukan berdasarkan enaknya kita tapi bagaimana penikmatnya. Hal ini tentu saja dapat disimpulkan jika ada datanya. Oleh karena itu survey menjadi hal wajib yang harus dilakukan pertama kali. Ketika kita salah mengambil data tentu saja berpengaruh kepada bentuk promosi, media yang digunakan dan hasil penjualan.
Ketika kita memanfaatkan media untuk menyampaikan ide atau melakukan kampanye/promosi sebenarnya kita sedang mempengaruhi orang untuk mengikuti apa yang kita inginkan. Tahapan-tahapan agar orang mau menerimanya yaitu:
1. Orang tersebut harus merasa nyaman terhadap kita
2. Giring ke suatu pendapat, jangan langsung menyampaikan agar ia merasa itu hasil pemikirannya
3. Bedakan segmentasinya dan perlakukan sesuai segmentasi tersebut

Ini salah satu cara memanfaatkan tools yang memiliki dampak yang besar. Masih banyak cara lain untuk bisa berkawan dengan media dan inilah yang perlu kita gali lebih dalam. Sebagai orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia tentu kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi solusi bagi bangsa ini. Ada banyak jalan untuk menyampaikan ide dan gagasan, tinggal kita mau bergerak menjadi solusi atau hanya diam menjadi masalah.