Liburan
ku semester ini lagi-lagi penuh dengan jadwal. Kalau tahun lalu penuh dengan
jadwal untuk presentasi ke SMA-SMA yang ada di Solo dan sekitarnya, ternyata
tahun ini jadwal liburanku (kalau bisa dibilang libur) adalah mengikuti
workshop atau kuliah di Fakultas Pertunjukan ISI Surakarta. Aku terpilih
sebagai delegasi dari PSTK ITB untuk belajar lagi kesenian Jawa khususnya seni
karawitan di ISI Surakarta. Pembukaan dilakukan tanggal 27 Desember 2012, kami
diterima oleh Dekan Fakultas Pertunjukan ISI Surakarta dan dari pihak ISI
lainnya yang terdiri dari Dosen Tari, Dosen Karawitan, Dosen Skenografi, Dosen
Tata Rias & Busana serta pihak-pihak terkait lainnya. Selain pembukaan kami
juga membicarakan masalah jadwal dan ruang pertemuan. Saat itulah dipastikan
bahwa dari tanggal 27 Desember 2012 sampai 10 Januari 2013 kami hanya punya 2
hari libur yaitu tanggal 31 Desember 2012 dan 1 Januari 2013. Defaultnya ada 12
pertemuan dengan durasi 2 jam setiap pertemuannya. Namun, karena kebutuhan yang
banyak dan waktu workshop kami yang super singkat bertambahlah durasi tiap
pertemuan kami bahkan jumlah pertemuan juga bertambah karena kami mengadakan
latihan mandiri. Nantinya di akhir workshop ini kami harus membuat presentasi
pagelaran menampilkan hasil dari workshop kami selama ini.
Pada tahap I ini materinya
adalah Pendalaman Materi. Jadi dari tanggal 28 Desember-30 Desenmber 2012 kami
mempresentasikan kemampuan yang sudah kami punya. Nah…… Selama proses itu
sambil dibenarkan jika ada teknik-teknik yang salah atau kurang pas oleh
bapak-bapak Dosen Karawitan. Ada 3 Dosen karawitan yang selalu bersama kami
yaitu Pak Suradji, Pak Hadi Boediono (Pak Budi) dan Pak Darno. Awalnya agak
canggung dan sungkan dengan bapak-bapak Dosen tapi ternyata Dosennya baik,
tlaten, ramah dan bisa bercanda juga. Asyik lah pokoknya………..
Okey
langsung saja lah ke materi yang aku dapat dan ingin aku bagikan dengan
teman-teman pembaca sekalian.
Karawitan
berasal dari kata rawit yang artinya
halus, lembut, lungit. Sedangkan karawitan sendiri berarti kehalusan rasa yang
diwujudkan dalam seni gamelan. Secara umum gamelan Jawa dibagi menjadi gamelan
berlaras pelog dan gamelan berlaras
slendro. Notasi atau titilaras dalam gamelan berlaras pelog terdiri dari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan pada
gamelan berlaras slendro adalah 1, 2, 3, 5, 6 dalam satu oktafnya. Selain itu
dari masing-masing laras gamelan ini memiliki pathet. Untuk gamelan berlaras
pelog ada pathet lima, pathet nem dan pathet barang. Sedangkan pada gamelan
berlaras slendro ada pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura. Ada beberapa jenis Gendhing antara lain:
Lancaran, Ladrang, Ketawang, Gendhing, Ayak-Ayak, Gangsaran, Jineman, Srepegan,
dan Sampak. Teknik atau cara bermain tiap gendhing ini berbeda begitu juga
dengan cara menabuh tiap ricikan gamelan. Dalam karawitan Jawa tempo sering
disebut dengan laya. Contoh sebutan
irama yaitu irama lancar. Sedangkan kalau bentuk gendhingnya disebut bentuk
Lancaran. Sebelum mulai lagu/gendhing biasanya ada buka, kalau yang buka itu boning namanya grambyangan tapi kalau sinden yang buka namanya celuk.
Pada
dasarnya ada 2 gagrak atau gaya yang
dikenal oleh kebanyakan masyarakat dalam kesenian jawa terutama pada seni tari
dan karawitan yaitu Gagrak Surakarta (Solo) dan Gagrak Jogja. Namun sebenarnya masih
ada lagi seperti gagrak pesisir atau banyumasan juga. Tetapi kenapa lebih
dikenal gagrak Solo dan Jogja karena dari dua daerah itu ada Kerajaan/Keraton
Jawa yang selalu mengembangkan kesenian jawa dan masih ada sampai saat ini.
Meskipun sama-sama karawitan tapi ada perbedaan yang sangat jelas antara
Karawitan Solo dengan Karawitan Jogja. Pada umumnya Karawitan Gaya Jogja itu
memainkan gendhing-gendhing soran/keras.
Penyebutan titik (.) dalam notasi karawitan juga berbeda. Kalau Gaya Solo
menyebutnya dengan “pin” sedangkan Gaya jogja menyebutnya “tik”.
Apa yang
teman-teman tahu tentang kendhang???
Kendhang adalah salah satu
instrument vital dalam karawitan. Kendhang bertugas sebagai “Pemangku Irama”. Kendhang Jawa pada
umumnya dibuat dari kayu pohon nangka atau manga, karena kayu dari pohon itulah
yang pori-porinya padat dan ulet. Bagian-bagian kendhang antara lain: klowong
(kayunya), janglet (tali, biasanya dari kulit), suh (yang dipake untuk ngencengi), wengku (pinggirannya), dan
tebokan (bagian yang dipukul, terbuat dari kulit). Tebokan sendiri ada 2 yaitu
bem (besar) dan gempyang (kecil). Cara menyetem Kendhang, pertama posisi suh harus dikencengi dulu, kemudian coba
bagian tebokan dipukul dengan kayu, dipas kan suaranya. Oh iya, kalau bagian
gempyang dipukul bersamaan dengan “tung” suara
tung akan lebig tinggi.
Mayoritas orang pasti tahu
bentuk kendhang, tapi tidak dengan rebab. Salah satu instrument alusan/halus
dalam karawitan ini memiliki suara yang paling lemah. Alatnya sendiri juga
rentan rusak. Namun rebab adalah “Pamurba Lagu” atau Penguasa Lagu dalam
karawitan. Sekeras apapun dalam menabuh gamelan semua instrument harus tetap
bisa mendengarkan suara rebab. Hal ini mempunyai filosofi tersendiri dimana
rebab diibaratkan seorang rakyat yang lemah tapi ada saat dimana dia mempunyai
kekuasaan yang besar. Oleh karena itu, “pemimpin” harus mendengar suara
rakyatnya. Bagian-bagian rebab antara lain: rangkung (alat gesek), gendho,
kawat, plontang (gagang/batang rebab), irungan (lubang), dan cakil.
Konsep
membuat gendhing itu seperti bahasa. Ada kerangka pokoknya dulu kemudian bisa
dikembangkan menjadi bentuk baru. Dalam notasi gendhing jawa dikenal istilah
baris dan gatra. Gatra adalah satuan/kumpulan angka/nada, biasanya dalam satu
gatra ada 4 angka. Baris adalah kumpulan dari gatra yang ada dalam satu baris
itu. Jumlah gatra tiap baris berbedda-beda, tapi pada umumnya jumlah gatra
dalam tiap baris adalah 4 gatra. Jenis nada ada yang disebut nada ding yaitu nada yang bisa diabaikan
dan nada dang yaitu nada seleh atau jatuhnya pukulan di nada
terakhir dalam tiap gatra.
Selain
karawitan kami juga belajar materi Skenografi. Dosen yang memberikan materi ini adalah Pak
Eko Supendi, beliau seoarang penari dan salah satu koreografer Pagelaran “Matah
Ati”. Skenografi identik dengan seni rupa, arsitektur, penataan benda-benda
dalam ruang, tata cahaya, dsb. Orang yang menangani tata artistik panggung dari
sebuah pertunjukan tertentu disebut Skenografer.
Fungsi skenografi yaitu mendekatkan pengunjung/penonton dengan pertunjukan atau
pameran sekaligus memudahkan untuk mengerti isinya. Selain itu juga
mengkomunikasikan gagasan seniman melalui kesatuan wujud visual yang berupa
tata cahaya, tata pentas, tata rias busana dan tata suara dan atau
mengekspresikan sudut pandang sutradara atau seniman pengkarya tentang latar
belakang bekal hidup dan kehidupan keseniannya.
Itu
sedikit ilmu yang sudah aku dapat dan masih banyak kekurangannya. Jadi sangat
dimohon masukan yang membangun dari teman-teman pembaca sekalian.
Oh iya
aku belum bilang aku adalah seorang pengrawit,
seorang niyaga dan pada kesempatan
ini aku adalah seorang wanita Penabuh
Gong. Untuk masalah per- Gong-an
dalam karawitan Insya Allah akan segera aku tulis. Jadi ditunggu saja……..
Acara ini diadakan oleh PSTK ITB

.jpg)

.jpg)


