Sabtu, 12 Januari 2013

Workshop ke ISI Solo Tahap I




Liburan ku semester ini lagi-lagi penuh dengan jadwal. Kalau tahun lalu penuh dengan jadwal untuk presentasi ke SMA-SMA yang ada di Solo dan sekitarnya, ternyata tahun ini jadwal liburanku (kalau bisa dibilang libur) adalah mengikuti workshop atau kuliah di Fakultas Pertunjukan ISI Surakarta. Aku terpilih sebagai delegasi dari PSTK ITB untuk belajar lagi kesenian Jawa khususnya seni karawitan di ISI Surakarta. Pembukaan dilakukan tanggal 27 Desember 2012, kami diterima oleh Dekan Fakultas Pertunjukan ISI Surakarta dan dari pihak ISI lainnya yang terdiri dari Dosen Tari, Dosen Karawitan, Dosen Skenografi, Dosen Tata Rias & Busana serta pihak-pihak terkait lainnya. Selain pembukaan kami juga membicarakan masalah jadwal dan ruang pertemuan. Saat itulah dipastikan bahwa dari tanggal 27 Desember 2012 sampai 10 Januari 2013 kami hanya punya 2 hari libur yaitu tanggal 31 Desember 2012 dan 1 Januari 2013. Defaultnya ada 12 pertemuan dengan durasi 2 jam setiap pertemuannya. Namun, karena kebutuhan yang banyak dan waktu workshop kami yang super singkat bertambahlah durasi tiap pertemuan kami bahkan jumlah pertemuan juga bertambah karena kami mengadakan latihan mandiri. Nantinya di akhir workshop ini kami harus membuat presentasi pagelaran menampilkan hasil dari workshop kami selama ini.
                Pada tahap I ini materinya adalah Pendalaman Materi. Jadi dari tanggal 28 Desember-30 Desenmber 2012 kami mempresentasikan kemampuan yang sudah kami punya. Nah…… Selama proses itu sambil dibenarkan jika ada teknik-teknik yang salah atau kurang pas oleh bapak-bapak Dosen Karawitan. Ada 3 Dosen karawitan yang selalu bersama kami yaitu Pak Suradji, Pak Hadi Boediono (Pak Budi) dan Pak Darno. Awalnya agak canggung dan sungkan dengan bapak-bapak Dosen tapi ternyata Dosennya baik, tlaten, ramah dan bisa bercanda juga. Asyik lah pokoknya………..
Okey langsung saja lah ke materi yang aku dapat dan ingin aku bagikan dengan teman-teman pembaca sekalian.
Karawitan berasal dari kata rawit yang artinya halus, lembut, lungit. Sedangkan karawitan sendiri berarti kehalusan rasa yang diwujudkan dalam seni gamelan. Secara umum gamelan Jawa dibagi menjadi gamelan berlaras pelog dan gamelan berlaras  slendro. Notasi atau titilaras dalam gamelan berlaras pelog  terdiri dari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan pada gamelan berlaras slendro adalah 1, 2, 3, 5, 6 dalam satu oktafnya. Selain itu dari masing-masing laras gamelan ini memiliki pathet. Untuk gamelan berlaras pelog ada pathet lima, pathet nem dan pathet barang. Sedangkan pada gamelan berlaras slendro ada pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura.  Ada beberapa jenis Gendhing antara lain: Lancaran, Ladrang, Ketawang, Gendhing, Ayak-Ayak, Gangsaran, Jineman, Srepegan, dan Sampak. Teknik atau cara bermain tiap gendhing ini berbeda begitu juga dengan cara menabuh tiap ricikan gamelan. Dalam karawitan Jawa tempo sering disebut dengan laya. Contoh sebutan irama yaitu irama lancar. Sedangkan kalau bentuk gendhingnya disebut bentuk Lancaran. Sebelum mulai lagu/gendhing biasanya ada buka, kalau yang buka itu boning namanya grambyangan tapi kalau sinden yang buka namanya celuk.
Pada dasarnya  ada 2 gagrak atau gaya yang dikenal oleh kebanyakan masyarakat dalam kesenian jawa terutama pada seni tari dan karawitan yaitu Gagrak Surakarta (Solo) dan Gagrak Jogja. Namun sebenarnya masih ada lagi seperti gagrak pesisir atau banyumasan juga. Tetapi kenapa lebih dikenal gagrak Solo dan Jogja karena dari dua daerah itu ada Kerajaan/Keraton Jawa yang selalu mengembangkan kesenian jawa dan masih ada sampai saat ini. Meskipun sama-sama karawitan tapi ada perbedaan yang sangat jelas antara Karawitan Solo dengan Karawitan Jogja. Pada umumnya Karawitan Gaya Jogja itu memainkan gendhing-gendhing soran/keras. Penyebutan titik (.) dalam notasi karawitan juga berbeda. Kalau Gaya Solo menyebutnya dengan “pin” sedangkan Gaya jogja menyebutnya “tik”.

Apa yang teman-teman tahu tentang kendhang???

Kendhang adalah salah satu instrument vital dalam karawitan. Kendhang bertugas sebagai “Pemangku Irama”. Kendhang Jawa pada umumnya dibuat dari kayu pohon nangka atau manga, karena kayu dari pohon itulah yang pori-porinya padat dan ulet. Bagian-bagian kendhang antara lain: klowong (kayunya), janglet (tali, biasanya dari kulit), suh (yang dipake untuk ngencengi), wengku (pinggirannya), dan tebokan (bagian yang dipukul, terbuat dari kulit). Tebokan sendiri ada 2 yaitu bem (besar) dan gempyang (kecil). Cara menyetem Kendhang, pertama posisi suh harus dikencengi dulu, kemudian coba bagian tebokan dipukul dengan kayu, dipas kan suaranya. Oh iya, kalau bagian gempyang dipukul bersamaan dengan “tung” suara tung akan lebig tinggi.
                Mayoritas orang pasti tahu bentuk kendhang, tapi tidak dengan rebab. Salah satu instrument alusan/halus dalam karawitan ini memiliki suara yang paling lemah. Alatnya sendiri juga rentan rusak. Namun rebab adalah “Pamurba Lagu” atau Penguasa Lagu dalam karawitan. Sekeras apapun dalam menabuh gamelan semua instrument harus tetap bisa mendengarkan suara rebab. Hal ini mempunyai filosofi tersendiri dimana rebab diibaratkan seorang rakyat yang lemah tapi ada saat dimana dia mempunyai kekuasaan yang besar. Oleh karena itu, “pemimpin” harus mendengar suara rakyatnya. Bagian-bagian rebab antara lain: rangkung (alat gesek), gendho, kawat, plontang (gagang/batang rebab), irungan (lubang), dan cakil.
Konsep membuat gendhing itu seperti bahasa. Ada kerangka pokoknya dulu kemudian bisa dikembangkan menjadi bentuk baru. Dalam notasi gendhing jawa dikenal istilah baris dan gatra. Gatra adalah satuan/kumpulan angka/nada, biasanya dalam satu gatra ada 4 angka. Baris adalah kumpulan dari gatra yang ada dalam satu baris itu. Jumlah gatra tiap baris berbedda-beda, tapi pada umumnya jumlah gatra dalam tiap baris adalah 4 gatra. Jenis nada ada yang disebut nada ding yaitu nada yang bisa diabaikan dan nada dang yaitu nada seleh atau jatuhnya pukulan di nada terakhir dalam tiap gatra.

Selain karawitan kami juga belajar materi Skenografi.  Dosen yang memberikan materi ini adalah Pak Eko Supendi, beliau seoarang penari dan salah satu koreografer Pagelaran “Matah Ati”. Skenografi identik dengan seni rupa, arsitektur, penataan benda-benda dalam ruang, tata cahaya, dsb. Orang yang menangani tata artistik panggung dari sebuah pertunjukan tertentu disebut Skenografer. Fungsi skenografi yaitu mendekatkan pengunjung/penonton dengan pertunjukan atau pameran sekaligus memudahkan untuk mengerti isinya. Selain itu juga mengkomunikasikan gagasan seniman melalui kesatuan wujud visual yang berupa tata cahaya, tata pentas, tata rias busana dan tata suara dan atau mengekspresikan sudut pandang sutradara atau seniman pengkarya tentang latar belakang bekal hidup dan kehidupan keseniannya.

Itu sedikit ilmu yang sudah aku dapat dan masih banyak kekurangannya. Jadi sangat dimohon masukan yang membangun dari teman-teman pembaca sekalian.

Oh iya aku belum bilang aku adalah seorang pengrawit, seorang niyaga dan pada kesempatan ini aku adalah seorang wanita Penabuh Gong.  Untuk masalah per- Gong-an dalam karawitan Insya Allah akan segera aku tulis. Jadi ditunggu saja…….. 

Acara ini diadakan oleh PSTK ITB





Kamis, 03 Januari 2013

Perjalanan Singkat Solo-Bandung-Solo


Perjalanan Solo ke Bandung balik lagi ke Solo ini aku lakukan dalam waktu kurang dari 3 hari. Meskipun dibilang singkat ternyata banyak hal aku alami dan menjadi pelajaran bagiku sendiri. Aku berangkat dari Terminal Kartasura, Solo tanggal 1 Januari pukul 16.30. Setelah memasuki Bus K***** Dj*** aku terpesona melihat fasilitas bus yang lengkap dan membuat penumpangnya merasa nyaman. Maklumlah aku baru pertama kali ke Bandung naik bus, biasanya aku naik kereta dan biasanya juga kereta api kelas ekonomi. Di dalam bus aku bertemu dengan teman ku yang juga akan pergi ke Bandung untuk ikut ujian. Karena penasaran dan akibat diomelin orang tua gara-gara harga tiket bus yang dianggap mahal, aku pun bertanya padanya. Ternyata dia membeli tiket bus dengan harga Rp 105.000,- di salah satu agen di Terminal Tirtonadi Solo sedangkan aku mendapatkan tiket bus dengan harga Rp 125.000,- di agen yang ada di Terminal Bus Kartasura. Aku berpikir ternyata sama bus, sama tanggal keberangkatan, sama tujuan tapi beda agen untuk beli tiketnya harganya beda sampai Rp 20.000,-. Padahal rata-rata harga barang di Solo dan Kartasura itu sama karena memang jaraknya dekat dan kadang bisa di bilang se area lah.  Tujuanku pergi jauh-jauh ke Bandung pada masa liburan ini hanya  1 yaitu mengikuti Ujian salah satu mata kuliah. Besoknya setelah ujian langsung balik lagi ke Solo, ya karena di Solo aku sedang menjalani Workshop di ISI Solo. Perjalananku menuju Bandung sangat nyaman. Di tempat duduk setiap penumpang tersedia bantal, selimut dan alat penyangga kaki. Selama perjalanan setiap penumpang juga mendapatkan snack (roti dan air mineral). Kami juga mendapatkan kupon makan gratis. Namun, tidak dengan hati dan pikiranku yang terus resah memikirkan ujian esok harinya. Aku juga takut telat datang ujian karena selama perjalanan macet. Dan benar saja, bus yang normalnya sampai bandung pukul 05.00 WIB ini ternyata baru sampai sekitar pukul 07.15 WIB. Aku langsung jalan untuk mencari angkot yang menuju ke arah ITB.


Pukul 07.30 WIB aku sampai kampus, untungnya aku anggota unit yang punya sekre cukup nyaman untuk tempat persinggahan sementara ku.  Di sekre PSTK inilah tujuanku. Aku bersiap dan sarapan sampai pukul 08.00 WIB. Setelah itu aku langsung menuju tempat ujian. Setelah bertemu beberapa teman dan ngobrol sebentar tibalah saat untuk ujian. Pukul 09.00-11.00 WIB kami ujian. Ternyata soalnya lumayan…. Yah semoga saja aku data nilai yang memuaskan dan bias lulus dari mata kuliah tersebut semester 3 ini. Beres ujian aku ternyata masih belum bias tenang karena masih harus mencari tiket bus untuk pulang ke Solo. Agen-agen bus yang aku pakai untuk ke Bandung kemarin sudah aku telpon tapi ternyata hasilnya nihil, semua tiket sudah terjual habis. Aku coba bus R******i ternyata habis juga akhirnya aku mencoba peruntungan ke agen bus B*****n, Alhamdulillah aku dapat 1 tiket dengan harga Rp 90.000,- di kursi terakhir yaitu 44. Ya sudahlah tak apa yang penting masih bisa sampai solo. Itu terjadi pukul 14.30, karena bus berangkat pukul 16.00 dan aku tidak tahu akan kemana lagi akhirnya kutunggu saja di tempat agen itu bersama perut yang terus keroncongan. Sebenarnya mau beli makan tapi tidak tahu harus kemana, ya sudah kuputuskan saja nanti beli pas ada orang yang jual ke dalam bus.
                B*****n Solo…….. B*****n Solo……. Yo…… Yo……. Masuk……. Panggilan dari bapak kondektur itu benar-benar membuatku terbangun. Aku mulai mengumpulkan kesadaran dan berjalan masuk bus. Sambil menghitung dan mencari tempat duduk, aku berdoa semoga bus tidak terlalu penuh sehingga aku tidak perlu duduk berdesak-desakan dalam jarak sejauh ini. Pukul 16.00 WIB bus berangkat dari garasinya yang ada di Cimahi dalam kondisi setengah isi. Sampai di Terminal Bus Cicaheum, Bandung Wuuuuuuuuhhhhhhhh……………… Bus langsung diserbu penumpang. Semua tempat duduk akhirnya terisi semua, untungnya yang duduk disampingku perempuan. Bus pun meluncur kembali. Sampai di daerah Cibiru datang lagi 3 orang penumpang 2 orang bapak-bapak dan 1 orang ibu, sontak aku bingung mau duduk dimana orang-orang ni, pikirku. Ternyata mereka duduk di bagian belakang bus tempat yang biasanya untuk naruh tas dan barang bawaan penumpang. Sambil bus berjalan, Sang kondektur baru meminta uang tiket ke 3 penumpang saat itu juga dan ternyata harganya sama dengan penumpang yang mendapatkan kursi yang layak. Belum habis kebingunganku, bus berhenti di agen dan kembali dimasuki penumpang. Kali ini sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak balita dalam gendongan ibunya itu. Waduwh………….. mau duduk dimana lagi ini penumpang? Aku masih tidak habis piker dengan sistem tiket dan kondisi penuhnya Bus B*****n ini. Oh iya…. Tadi juga sempat ada masalah dengan nomor tiket yang dobel juga, sekarang semua kursi sudah penuh tapi masih menerima penumpang terus. Akhirnya penumpang tadi duduk di tangga pintu belakang bus. Oleh kondektur keluarga tadi juga diminta bayaran sama dengan penumpang yang lainnya. Padahal mereka duduk lesehan di lantai bus dalam perjalanan jarak jauh Bandung-Solo ini dengan membawa seorang balita. Coba bayangkan........
Ini adalah pengalaman pertamaku naik bus dan duduk di paling belakang. Ternyata banyak fakta aku temukan. Dulu saat aku duduk di kursi depan juga pernah melihat penumpang yang terus masuk dan bergerak ke belakang bus tapi aku tidak pernah tahu mereka duduk dimana dan seperti apa. Aku malah cenderung tidak peduli dan tidur saja. Sekarang aku bisa melihat kondisi bus dari belakang. Bagaimana penumpangnya, duduknya, kondektur yang jalan-jalan, dan mendengar penumpang di atasku (3 orang yang duduk di belakang di tempat tas) berteriak-teriak karena terpontang-panting saat bus berjalan kencang di jalan yang tidak rata. Hal ini tentu berbeda 180 derajat dengan kondisi perjalananku saat berangkat ke Bandung kemarinnya. 

Kalau dalam perjalanan sejauh ini saja bus bisa menumpuk-numpuk penumpang dengan seenaknya apalagi dalam jarak dekat. Para petugas bus dan agen juga nampaknya kurang peduli dengan kenyamanan penumpang. Sering disebutkan salah satu penyebab kecelakaan adalah kendaraan yang over kuota, namun sepertinya hal ini masih tidak dipedulikan oleh banyak orang. Mayoritas orang dalam kondisi ini hanya berpikir bagaimana agar tetap bisa terangkut sampai di tujuan dan di pihak lain memanfaatkan kesempatan mendapat pemasukan yang lebih dari biasanya. Ini salah satu realita bangsa Indonesia yang mungkin sudah cukup mengakar di masyarakat dimana orang berusaha mencari untung dan masih belum peduli akibat dari perbuatannya terhadap lingkungan sekitar.