Jumat, 12 September 2014

Upacara Bendera


       Teringat masa-masa di bangku sekolah. Berangkat pagi-pagi, berpakaian rapi tidak lupa memakai dasi lengkap dengan topi menjadi sebuah rutinitas hari senin bagi anak sekolahan baik SD, SMP maupun SMA. Setiap orang tahu bahwa anak sekolahan ini akan mengikuti upacara bendera. Salah satu kegiatan yang biasa dilakukan anak sekolah, tetapi hal yang cukup langka untuk seorang mahasiswa. Sudah sekitar 3 tahun menyandang status mahasiswa tapi tidak lebih dari 5 kali aku mengikuti upacara bendera.
        Tanggal 17 Agustus kemarin aku menyimak TV dengan seksama mengikuti Upacara Detik-Detik Proklamasi. Awalnya biasa saja bahkan aku masih bisa sambil baca buku atau ngobrol dengan saudara. Tapi lama kelamaan suasana menjadi berbeda, sepi, fokus, dan terasa khitmat. Saat pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) memasuki lapangan tubuhku mulai merinding tidak lama setelah bendera mulai dinaikkan berkaca-kacalah mataku. Seketika itu memori masa lalu berkelebat di pikiranku.
           Selama menjadi siswa tanpa titel 'maha' ternyata aku memiliki hobi yang unik yaitu mengikuti upacara terlebih menjadi petugas upacara. Saat SD dengan susah payah aku hafalkan UUD 1945 agar ditunjuk mengucapkannya ketika upacara. Bahkan aku setiap jumat dan sabtu pulang lebih siang karena belajar bermain keyboard untuk mengiringi lagu 'Indonesia Raya' saat upacara bendera. Pernah juga aku pulang dengan 'ngotor-otor' (membawa) keyboard pak guru untuk belajar di rumah. Saat SMP tidak banyak yang bisa aku lakukan, aku harus puas dengan menjadi peserta upacara saja. Hobi upacara ternyata berlanjut saat SMA. Di SMA, aku masuk OSIS seksi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Alhasil aku menjadi orang yang kerjaannya ngurusin jadwal upacara, latihan upacara dan giliran petugas upacara. Setiap jumat dan sabtu siang setelah pulang sekolah menjadi hari "Latihan Upacara". Pada hari itu yang dilakukan yaitu melatih petugas upacara dari MC, pembaca doa, pembaca UUD 1945, dirigen, dan petugas bendera. Terkhusus komandan upacara, perwira dan ajudan itu tugas partner saya yang laki-laki. Tentu saja itu tidak aku lakukan sendirian atau berdua saja tetapi dengan teman-teman Pengurus OSIS yang lain. Para petugas yang dilatih berasal dari setiap kelas yang mendapat giliran untuk menjadi petugas upacara. Ya.... dulu di SMA ku setiap kelas pasti mendapat giliran menjadi petugas upacara, mungkin tujuannya agar semua siswa ikut merasakan rasa nasionalisme dan belajar menjadi pelaku aktif bukan hanya sebegai peserta saja. Hal ini menjadi rutinitasku sampai kurang lebih 2 tahun di SMA. Namun kini setelah menjadi mahasiswa aku tidak lagi melakukan rutinitas itu. Tidak lagi ada upacara bendera yang membuatku harus bangun lebih pagi, panik mencari dasi atau topi yang tetiba ngumpet entah dimana ataupun pulang siang untuk latihan upacara. Mungkin pernah sih dulu pas awal masuk perguruan tinggi aku ikut upacara seperti upacara 17 Agustus. Setelah sekian lama duduk di bangku kuliah aku baru tersadar lagi betapa aku kehilangan momen-momen saat aku sekolah. Betapa aku merasa hal kecil seperti ikut upacara dengan khidmat cukup membangkitkan gemuruh patriotisme dalam jiwaku. Tidak perlu logika dan teori-teori yang rumit untuk bisa menciptakan rasa itu. Cukup dengan "lakukan" dan "rasakan". 
         Rasa nasionalisme itu adalah rasa mencintai tanah airnya, berjuang untuk kehormatan negerinya, memperkuat persatuan masyarakatnya, selalu ingin yang terbaik untuk kemajuan dan kemakmuran bangsanya, mungkin itu yang ada dalam bayanganku. Seharusnya dengan rasa ini setiap orang bisa mendahulukan kepentingan bersama (umum), mengesampingkan kepentingan dan ego pribadi maupun golongan yang dapat menimbulkan perselisihan. 
Pernah aku rasakan putus asa terhadap kondisi bangsa ini. Aku mencintai negeri ini dengan seluruh masyarakat serta kekayaan yang ada didalamnya dengan sepenuh hatiku. Sungguh memprihatinkan ketika melihat kenyataan betapa kayanya alam Indonesia tetapi hasilnya tidak bisa dinikmati  semua oleh rakyatnya, semakin banyak koruptor yang merajalela, sistem yang carut marut seolah tidak dapat diatasi lagi, dan sebagainya. Di sisi lain masih banyak sekali orang dengan gaji di bawah rata-rata, anak-anak yang putus sekolah, orang sakit tak mampu berobat dan seterusnya. Saat itu aku merasa apa yang bisa aku lakukan, seorang anak kelas XI SMA. Aku benar-benar tidak bisa menjawabnya dengan melihat realita Indonesia saat itu seolah-olah usaha apapun yang nanti akan aku lakukan itu percuma. Sampai aku berpikir, apa perlu Allah membinasakan semua orang yang ada sekarang dan menggantinya dengan orang-orang baru yang lebih baik dan belum 'terkontaminasi'. 
Untung saja Allah segera menyadarkanku jika tidak mungkin aku akan jadi orang yang oportunis sekarang karena merasa putus asa terhadap negeri ini akhirnya hanya memikirkan kesenangan sendiri. Aku sadar bahwa masih banyak orang-orang baik yang tersebar di penjuru negeri ini. Masih ada orang-orang yang memperjuangkan rakyatnya. Masih dan akan ada orang-orang pandai yang bisa mengolah kekayaan negerinya dengan baik. Aku percaya akan ada peminmpin-pemimpin yang jujur dan adil lahir di negeri ini. Masih ada banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pemuda. Aku sadar kita manusia bisa berusaha dengan maksimal dan Allah akan mempergilirkan kejayaan kepada hamba yang dikehendakinya. Mimpi untuk negeri ini masih bisa aku tularkan ke banyak orang dan aku wariskan ke generasi selanjutnya nanti. 
Ketika duplikat sang saka Merah Putih dikibarkan di langit 17 Agustus 2014, mataku berkaca-kaca dan hatiku berkata, "Harapan itu masih ada untuk Indonesia".