Kamis, 03 Januari 2013

Perjalanan Singkat Solo-Bandung-Solo


Perjalanan Solo ke Bandung balik lagi ke Solo ini aku lakukan dalam waktu kurang dari 3 hari. Meskipun dibilang singkat ternyata banyak hal aku alami dan menjadi pelajaran bagiku sendiri. Aku berangkat dari Terminal Kartasura, Solo tanggal 1 Januari pukul 16.30. Setelah memasuki Bus K***** Dj*** aku terpesona melihat fasilitas bus yang lengkap dan membuat penumpangnya merasa nyaman. Maklumlah aku baru pertama kali ke Bandung naik bus, biasanya aku naik kereta dan biasanya juga kereta api kelas ekonomi. Di dalam bus aku bertemu dengan teman ku yang juga akan pergi ke Bandung untuk ikut ujian. Karena penasaran dan akibat diomelin orang tua gara-gara harga tiket bus yang dianggap mahal, aku pun bertanya padanya. Ternyata dia membeli tiket bus dengan harga Rp 105.000,- di salah satu agen di Terminal Tirtonadi Solo sedangkan aku mendapatkan tiket bus dengan harga Rp 125.000,- di agen yang ada di Terminal Bus Kartasura. Aku berpikir ternyata sama bus, sama tanggal keberangkatan, sama tujuan tapi beda agen untuk beli tiketnya harganya beda sampai Rp 20.000,-. Padahal rata-rata harga barang di Solo dan Kartasura itu sama karena memang jaraknya dekat dan kadang bisa di bilang se area lah.  Tujuanku pergi jauh-jauh ke Bandung pada masa liburan ini hanya  1 yaitu mengikuti Ujian salah satu mata kuliah. Besoknya setelah ujian langsung balik lagi ke Solo, ya karena di Solo aku sedang menjalani Workshop di ISI Solo. Perjalananku menuju Bandung sangat nyaman. Di tempat duduk setiap penumpang tersedia bantal, selimut dan alat penyangga kaki. Selama perjalanan setiap penumpang juga mendapatkan snack (roti dan air mineral). Kami juga mendapatkan kupon makan gratis. Namun, tidak dengan hati dan pikiranku yang terus resah memikirkan ujian esok harinya. Aku juga takut telat datang ujian karena selama perjalanan macet. Dan benar saja, bus yang normalnya sampai bandung pukul 05.00 WIB ini ternyata baru sampai sekitar pukul 07.15 WIB. Aku langsung jalan untuk mencari angkot yang menuju ke arah ITB.


Pukul 07.30 WIB aku sampai kampus, untungnya aku anggota unit yang punya sekre cukup nyaman untuk tempat persinggahan sementara ku.  Di sekre PSTK inilah tujuanku. Aku bersiap dan sarapan sampai pukul 08.00 WIB. Setelah itu aku langsung menuju tempat ujian. Setelah bertemu beberapa teman dan ngobrol sebentar tibalah saat untuk ujian. Pukul 09.00-11.00 WIB kami ujian. Ternyata soalnya lumayan…. Yah semoga saja aku data nilai yang memuaskan dan bias lulus dari mata kuliah tersebut semester 3 ini. Beres ujian aku ternyata masih belum bias tenang karena masih harus mencari tiket bus untuk pulang ke Solo. Agen-agen bus yang aku pakai untuk ke Bandung kemarin sudah aku telpon tapi ternyata hasilnya nihil, semua tiket sudah terjual habis. Aku coba bus R******i ternyata habis juga akhirnya aku mencoba peruntungan ke agen bus B*****n, Alhamdulillah aku dapat 1 tiket dengan harga Rp 90.000,- di kursi terakhir yaitu 44. Ya sudahlah tak apa yang penting masih bisa sampai solo. Itu terjadi pukul 14.30, karena bus berangkat pukul 16.00 dan aku tidak tahu akan kemana lagi akhirnya kutunggu saja di tempat agen itu bersama perut yang terus keroncongan. Sebenarnya mau beli makan tapi tidak tahu harus kemana, ya sudah kuputuskan saja nanti beli pas ada orang yang jual ke dalam bus.
                B*****n Solo…….. B*****n Solo……. Yo…… Yo……. Masuk……. Panggilan dari bapak kondektur itu benar-benar membuatku terbangun. Aku mulai mengumpulkan kesadaran dan berjalan masuk bus. Sambil menghitung dan mencari tempat duduk, aku berdoa semoga bus tidak terlalu penuh sehingga aku tidak perlu duduk berdesak-desakan dalam jarak sejauh ini. Pukul 16.00 WIB bus berangkat dari garasinya yang ada di Cimahi dalam kondisi setengah isi. Sampai di Terminal Bus Cicaheum, Bandung Wuuuuuuuuhhhhhhhh……………… Bus langsung diserbu penumpang. Semua tempat duduk akhirnya terisi semua, untungnya yang duduk disampingku perempuan. Bus pun meluncur kembali. Sampai di daerah Cibiru datang lagi 3 orang penumpang 2 orang bapak-bapak dan 1 orang ibu, sontak aku bingung mau duduk dimana orang-orang ni, pikirku. Ternyata mereka duduk di bagian belakang bus tempat yang biasanya untuk naruh tas dan barang bawaan penumpang. Sambil bus berjalan, Sang kondektur baru meminta uang tiket ke 3 penumpang saat itu juga dan ternyata harganya sama dengan penumpang yang mendapatkan kursi yang layak. Belum habis kebingunganku, bus berhenti di agen dan kembali dimasuki penumpang. Kali ini sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak balita dalam gendongan ibunya itu. Waduwh………….. mau duduk dimana lagi ini penumpang? Aku masih tidak habis piker dengan sistem tiket dan kondisi penuhnya Bus B*****n ini. Oh iya…. Tadi juga sempat ada masalah dengan nomor tiket yang dobel juga, sekarang semua kursi sudah penuh tapi masih menerima penumpang terus. Akhirnya penumpang tadi duduk di tangga pintu belakang bus. Oleh kondektur keluarga tadi juga diminta bayaran sama dengan penumpang yang lainnya. Padahal mereka duduk lesehan di lantai bus dalam perjalanan jarak jauh Bandung-Solo ini dengan membawa seorang balita. Coba bayangkan........
Ini adalah pengalaman pertamaku naik bus dan duduk di paling belakang. Ternyata banyak fakta aku temukan. Dulu saat aku duduk di kursi depan juga pernah melihat penumpang yang terus masuk dan bergerak ke belakang bus tapi aku tidak pernah tahu mereka duduk dimana dan seperti apa. Aku malah cenderung tidak peduli dan tidur saja. Sekarang aku bisa melihat kondisi bus dari belakang. Bagaimana penumpangnya, duduknya, kondektur yang jalan-jalan, dan mendengar penumpang di atasku (3 orang yang duduk di belakang di tempat tas) berteriak-teriak karena terpontang-panting saat bus berjalan kencang di jalan yang tidak rata. Hal ini tentu berbeda 180 derajat dengan kondisi perjalananku saat berangkat ke Bandung kemarinnya. 

Kalau dalam perjalanan sejauh ini saja bus bisa menumpuk-numpuk penumpang dengan seenaknya apalagi dalam jarak dekat. Para petugas bus dan agen juga nampaknya kurang peduli dengan kenyamanan penumpang. Sering disebutkan salah satu penyebab kecelakaan adalah kendaraan yang over kuota, namun sepertinya hal ini masih tidak dipedulikan oleh banyak orang. Mayoritas orang dalam kondisi ini hanya berpikir bagaimana agar tetap bisa terangkut sampai di tujuan dan di pihak lain memanfaatkan kesempatan mendapat pemasukan yang lebih dari biasanya. Ini salah satu realita bangsa Indonesia yang mungkin sudah cukup mengakar di masyarakat dimana orang berusaha mencari untung dan masih belum peduli akibat dari perbuatannya terhadap lingkungan sekitar.

1 komentar:

  1. kak, kalau tujuan Dago Atas turun terminal mana kak ?
    kalau tujuan STKS transport bagaimana ?
    tolng bantuannya kak.. Terimakasih..

    BalasHapus