Kamis, 08 Januari 2015
Jumat, 12 September 2014
Upacara Bendera

Teringat masa-masa di bangku sekolah. Berangkat pagi-pagi, berpakaian rapi tidak lupa memakai dasi lengkap dengan topi menjadi sebuah rutinitas hari senin bagi anak sekolahan baik SD, SMP maupun SMA. Setiap orang tahu bahwa anak sekolahan ini akan mengikuti upacara bendera. Salah satu kegiatan yang biasa dilakukan anak sekolah, tetapi hal yang cukup langka untuk seorang mahasiswa. Sudah sekitar 3 tahun menyandang status mahasiswa tapi tidak lebih dari 5 kali aku mengikuti upacara bendera.
Tanggal 17 Agustus kemarin aku menyimak TV dengan seksama mengikuti Upacara Detik-Detik Proklamasi. Awalnya biasa saja bahkan aku masih bisa sambil baca buku atau ngobrol dengan saudara. Tapi lama kelamaan suasana menjadi berbeda, sepi, fokus, dan terasa khitmat. Saat pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) memasuki lapangan tubuhku mulai merinding tidak lama setelah bendera mulai dinaikkan berkaca-kacalah mataku. Seketika itu memori masa lalu berkelebat di pikiranku.
Selama menjadi siswa tanpa titel 'maha' ternyata aku memiliki hobi yang unik yaitu mengikuti upacara terlebih menjadi petugas upacara. Saat SD dengan susah payah aku hafalkan UUD 1945 agar ditunjuk mengucapkannya ketika upacara. Bahkan aku setiap jumat dan sabtu pulang lebih siang karena belajar bermain keyboard untuk mengiringi lagu 'Indonesia Raya' saat upacara bendera. Pernah juga aku pulang dengan 'ngotor-otor' (membawa) keyboard pak guru untuk belajar di rumah. Saat SMP tidak banyak yang bisa aku lakukan, aku harus puas dengan menjadi peserta upacara saja. Hobi upacara ternyata berlanjut saat SMA. Di SMA, aku masuk OSIS seksi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Alhasil aku menjadi orang yang kerjaannya ngurusin jadwal upacara, latihan upacara dan giliran petugas upacara. Setiap jumat dan sabtu siang setelah pulang sekolah menjadi hari "Latihan Upacara". Pada hari itu yang dilakukan yaitu melatih petugas upacara dari MC, pembaca doa, pembaca UUD 1945, dirigen, dan petugas bendera. Terkhusus komandan upacara, perwira dan ajudan itu tugas partner saya yang laki-laki. Tentu saja itu tidak aku lakukan sendirian atau berdua saja tetapi dengan teman-teman Pengurus OSIS yang lain. Para petugas yang dilatih berasal dari setiap kelas yang mendapat giliran untuk menjadi petugas upacara. Ya.... dulu di SMA ku setiap kelas pasti mendapat giliran menjadi petugas upacara, mungkin tujuannya agar semua siswa ikut merasakan rasa nasionalisme dan belajar menjadi pelaku aktif bukan hanya sebegai peserta saja. Hal ini menjadi rutinitasku sampai kurang lebih 2 tahun di SMA. Namun kini setelah menjadi mahasiswa aku tidak lagi melakukan rutinitas itu. Tidak lagi ada upacara bendera yang membuatku harus bangun lebih pagi, panik mencari dasi atau topi yang tetiba ngumpet entah dimana ataupun pulang siang untuk latihan upacara. Mungkin pernah sih dulu pas awal masuk perguruan tinggi aku ikut upacara seperti upacara 17 Agustus. Setelah sekian lama duduk di bangku kuliah aku baru tersadar lagi betapa aku kehilangan momen-momen saat aku sekolah. Betapa aku merasa hal kecil seperti ikut upacara dengan khidmat cukup membangkitkan gemuruh patriotisme dalam jiwaku. Tidak perlu logika dan teori-teori yang rumit untuk bisa menciptakan rasa itu. Cukup dengan "lakukan" dan "rasakan".
Rasa nasionalisme itu adalah rasa mencintai tanah airnya, berjuang untuk kehormatan negerinya, memperkuat persatuan masyarakatnya, selalu ingin yang terbaik untuk kemajuan dan kemakmuran bangsanya, mungkin itu yang ada dalam bayanganku. Seharusnya dengan rasa ini setiap orang bisa mendahulukan kepentingan bersama (umum), mengesampingkan kepentingan dan ego pribadi maupun golongan yang dapat menimbulkan perselisihan.
Pernah aku rasakan putus asa terhadap kondisi bangsa ini. Aku mencintai negeri ini dengan seluruh masyarakat serta kekayaan yang ada didalamnya dengan sepenuh hatiku. Sungguh memprihatinkan ketika melihat kenyataan betapa kayanya alam Indonesia tetapi hasilnya tidak bisa dinikmati semua oleh rakyatnya, semakin banyak koruptor yang merajalela, sistem yang carut marut seolah tidak dapat diatasi lagi, dan sebagainya. Di sisi lain masih banyak sekali orang dengan gaji di bawah rata-rata, anak-anak yang putus sekolah, orang sakit tak mampu berobat dan seterusnya. Saat itu aku merasa apa yang bisa aku lakukan, seorang anak kelas XI SMA. Aku benar-benar tidak bisa menjawabnya dengan melihat realita Indonesia saat itu seolah-olah usaha apapun yang nanti akan aku lakukan itu percuma. Sampai aku berpikir, apa perlu Allah membinasakan semua orang yang ada sekarang dan menggantinya dengan orang-orang baru yang lebih baik dan belum 'terkontaminasi'.
Untung saja Allah segera menyadarkanku jika tidak mungkin aku akan jadi orang yang oportunis sekarang karena merasa putus asa terhadap negeri ini akhirnya hanya memikirkan kesenangan sendiri. Aku sadar bahwa masih banyak orang-orang baik yang tersebar di penjuru negeri ini. Masih ada orang-orang yang memperjuangkan rakyatnya. Masih dan akan ada orang-orang pandai yang bisa mengolah kekayaan negerinya dengan baik. Aku percaya akan ada peminmpin-pemimpin yang jujur dan adil lahir di negeri ini. Masih ada banyak hal yang bisa aku lakukan sebagai pemuda. Aku sadar kita manusia bisa berusaha dengan maksimal dan Allah akan mempergilirkan kejayaan kepada hamba yang dikehendakinya. Mimpi untuk negeri ini masih bisa aku tularkan ke banyak orang dan aku wariskan ke generasi selanjutnya nanti.
Ketika duplikat sang saka Merah Putih dikibarkan di langit 17 Agustus 2014, mataku berkaca-kaca dan hatiku berkata, "Harapan itu masih ada untuk Indonesia".Selasa, 17 Desember 2013
Part 2: Berkawan Media
Pada jaman globalisasi seperti sekarang ini telah banyak orang mengenal internet. Mayoritas orang memiliki sosial media entah itu FB, twitter, atau yang lainnya. Selain media sosial masih banyak media lain yang ada dan tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Jadi sangat tidak wajar jika orang masih merasa tidak dapat menyampaikan gagasan atau idenya. Hanya saja pada realita di lapangannya yang kita temukan banyak orang memakai sosial media hanya untuk menyampaikan kegalauan akan dirinya. Ya memang mungkin itulah kodratnya manusia yang ingin diperhatikan dan didengar. Padahal jika mau sedikit saja melihat keluar, pasti akan banyak masalah yang ditemukan di lingkungan sekitar kita. Ada banyak hal yang membuat kita galau, tidak sekedar kegalauan terhadap diri sendiri tapi kegalauan terhadap masalah sosial masyarakat.
Pada part 1, telah dibahas bagaimana seorang jurnalis dan adanya institusi media di belakangnya. Seperti yang kita tahu juga media itu dapat menjadi kawan ataupun lawan. Nah saat ini kita belajar bagaimana bisa berkawan dengan media.
Hal yang harus kita lakukan pertama adalah melakukan riset atau survey sebagai dasar bergerak. Tinjau elektabilitas, popularitas, media yang efektif untuk promosi produk/idenya dan lakukan "aktivasi online" atau pertemuan daratnya.
Pada radio hanya bisa fokus pada 1 segmen yang dituju saja. Usaha yang bisa dilakukan adalah memperbanyak listenernya (pendengangarnya). Oleh karena itu perlu dilakukan riset tentang profil pendengarnya. Kemudian dilakukan segmentasi dari segi ekonomi, pendidikan, usia, dll. Begitu juga dengan media sosial seperti twitter dan facebook.
Dalam psikologi marketing/pasar yang perlu dilakukan adalah sesuaikan produk dengan penikmatnya. Pada umumnya kampanye hanya berpengaruh di awal saja, selanjutnya orang akan tetap melihat produknya seperti apa. Jika produknya sudah baik tinggal kampanyenya atau promosinya. Istilahnya kalau lagu, liriknya bisa saja sama yang diubah-ubah adalah nadanya. Hal ini agar pendengar/penikmat/konsumen tertarik untuk memilihnya. Nah..... disini peran media sangat besar. Ia sebagai tools untuk membangun nada, membuat pencitraan dan menghias cover/packaging.
Semua harus direncanakan dengan baik atau bahkan sengaja dibuat skenarionya lebih dulu. Misalkan membuat akun twitter yang unik dan tidak dikenal, ketika telah banyak followernya dapat dimanfaatkan untuk promosi, menyebar ide atau gagasan, dan lain sebagainya. Begitu pun ketika membuat sesuatu, bukan berdasarkan enaknya kita tapi bagaimana penikmatnya. Hal ini tentu saja dapat disimpulkan jika ada datanya. Oleh karena itu survey menjadi hal wajib yang harus dilakukan pertama kali. Ketika kita salah mengambil data tentu saja berpengaruh kepada bentuk promosi, media yang digunakan dan hasil penjualan.
Ketika kita memanfaatkan media untuk menyampaikan ide atau melakukan kampanye/promosi sebenarnya kita sedang mempengaruhi orang untuk mengikuti apa yang kita inginkan. Tahapan-tahapan agar orang mau menerimanya yaitu:
1. Orang tersebut harus merasa nyaman terhadap kita
2. Giring ke suatu pendapat, jangan langsung menyampaikan agar ia merasa itu hasil pemikirannya
3. Bedakan segmentasinya dan perlakukan sesuai segmentasi tersebut
Ini salah satu cara memanfaatkan tools yang memiliki dampak yang besar. Masih banyak cara lain untuk bisa berkawan dengan media dan inilah yang perlu kita gali lebih dalam. Sebagai orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia tentu kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi solusi bagi bangsa ini. Ada banyak jalan untuk menyampaikan ide dan gagasan, tinggal kita mau bergerak menjadi solusi atau hanya diam menjadi masalah.
Sabtu, 31 Agustus 2013
Sekilas tentang Gong
Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah “gong”, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.
Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).
Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.
Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya masih belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis. Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek. Cara memegang kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.
Sebagaimana kita ketahui, bentuk dari instrumen gong adalah bulat, lingkaran, dan mempunyai titik di tengahnya sebagai pusat resonansi dengan bentuk yang lebih menonjol. Belakangnya berbentuk seperti pinggiran cawan, sebagai bagian dari resonator instrumen tersebut. Gong dibuat dari bahan logam, baik itu dari kuningan, perunggu, maupun besi, serta dari logam lainnya. Namun umumnya gong terbuat dari bahan tembaga atau kuningan dan perunggu. Bunyi yang dihasilkan dari instrumen gong berada di wilayah atau range nada rendah, namun memiliki overtone series yang menjangkau lebih dari tingkatan harmoni ke enam belas.
![]() |
Gong memiliki bentuk paling besar sehingga memiliki suara paling rendah di antara instrument gamelan lainya. Gong merupakan instrument yang paling dihargai dari semua instrument gamelan karena dianggap sebagai jiwa gamelan. Gong dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1. Gong siyem
Besarnya di antara kempul dan gong gedhe (besar).
2. Gong suwukan
Besarnya di antara kempul dan gong gedhe (besar).
3. Gong gedhe
Gong yang bentuknya paling besar.
Sumber Gambar:
http://nonobudparpora.wordpress.com/2011/04/07/gamelan/
Teman Dekat Itu.......
Pada suatu sore hari di sekitar kampus
A: "Eh mbak, menurutku aktivis-aktivis itu nggak pada punya teman dekat. menurut mu gimana?"
B: "Ehm...... nggak juga sih."
A: "Lha kan saking sibuknya jadi jauh sama temen-temennya, dah nggak bisa bareng-bareng lagi. dia punya kesibukan lain dan temennya juga punya kesibukan lain akhirnya jauh deh."
B: "Wah itu nggak bisa dibilang nggak punya temen deket dong. kalau deskripsi temen deket menurut kamu kayak yang di sinetron-sinetron itu, yang kemana-mana bareng terus dan seolah-olah tak terpisahkan, mungkin iya bener pendapatmu. Tapi temen deket kan bukan sekedar itu saja. Teman dekat ya dekat di hati, bisa diajak saling berbagi, saling menasehati dalam kebaikan."
A: "Lha gimana biar bisa kayak gitu mbak? orang ketemu aja jarang?"
B: "Jika kita punya saling keterikatan hati, sama-sama merasakan kita sesama muslim yang bersaudara dan Allah telah mempersatukan hati kita. Meskipun jarang ketemu tetap saling memberi semangat dan doa untuk saudaranya yang juga berjuang di ranah nya masing-masing. Akan selalu ada kerinduan terhadap saudaranya."
A: "ooo..... iyo tho mbak?"
B: "Itu sih yang aku rasakan."
Mungkin terdapat perbedaan persepsi atau pandangan setiap orang terhadap definisi teman dekat ini. Ada yang berpendapat bahwa teman dekat adalah yang dekat secara lahiriah. Ada yang berpendapat aktivis itu temannya banyak karena banyak yang dia kenal dan kenal dia. Ada juga yang mengatakan kalau teman dekat itu yang menuntut pertemuan fisik lebih banyak.
Menurut hemat saya, aktivis memang memiliki banyak teman karena banyak yang dia kenal dan kenal dia hanya saja dari sekian banyak teman itu belum tentu ada yang benar-benar menjadi teman dekatnya. Karena bagi saya teman dekat itu yang bisa diajak berdiskusi mengenai masalah-masalah pribadi, yang bisa saling berempati, dan saling memiliki keterikatan hati. Jadi ia yang dekat di hati tetapi tidak terlalu jauh di mata.
Sumber gambar:
http://riyuyuri.wordpress.com/2011/12/19/persahabatan-kasih-sayang-seekor-binatang/
Rabu, 05 Juni 2013
Cara Menabuh Kempul & Gong #Gangsaran & Ayak-Ayak
Gangsaran
Bk. g3
3 3 p3 3 p3 3 p3 g3
NB: Cara
main kempul dan gong dalam gangsaram sama dengan dalam lancaran yaitu dalam 1
gong-an ada 3 pukulan kempul dengan letak seperti di atas.
Ayak-Ayak Manyura
Bk. g2
.3.p2 .3.p2
.5.p3 .2.g1
232p1 232p1
353g2 353p2 535g6
535p6 535p6
332p3 653g2
353p2 353p2
532p3 212g1
NB: Pukulan
kempul dan gong dari ayak-ayak tidak bisa ditentukan dalam satu barisnya,
karena memang berbeda-beda. Jadi cara nabuhnya seperti pada contoh di atas.
pada nada kedua tiap gatranya itu ada tabuhan kenong.
Cara Menabuh Kempul & Gong #Srepeg & Sampak
Srepeg Sl. M
Bk. g2
3p23p2 2p32g1
2p12p1 3p23p2
5p6!g6
!p6!p6 5p35p3
6p53g2
NB: Pukulan
Kempul dalam gendhing bentuk srepeg yaitu pada nada/notasi ke-2 dan ke-4 dalam
tiap gatra seperti contoh di atas dan kempul yang dipukul sesuai dengan nada
seleh atau nada terakhir dari tiap gatranya. Sedangkan pukulan Gong yaitu di
setiap akhir baris dari srepeg berapapun jumlah gatra dalam tiap barisnya,
seperti contoh di atas.
Sampak Sl. M
Bk. g2
p2p2p2p2 p1p1p1g1
p1p1p1p1 p2p2p2p2
p6p6p6g6
p6p6p6p6 p3p3p3p3
p2p2p2g2
NB: Pukulan Gong dalam permainan sampak sama dengan srepeg yaitu setiap di akhir baris dari sampak tersebut. Sedangkan pukulan Kempulnya yaitu pada semua nada kecuali yang di akhir baris karena untuk gong. Kempul yang dipukul sesuai dengan nada seleh atau nada terakhir di tiap gatranya. Lihat contoh di atas.
Sampak Kebumen
Bk. g2
p6p6p6p6 p6p6p6g2
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)


